Orang arif-bijaksana pernah mengingatkan kepada kita bahwa kalau ingin mengenal seseorang maka jangan lihat dari pakaiannya saja, akan tetapi lihatlah akhlaknya. Hal ini sejalan dengan fenomena yang sering di sekitar kita, utamanya terkait amalan-amalan sehari-hari dan ibadah-ibadah di dalamnya. Biasanya orang yang melakukan sesuatu yang secara dzahir baik, maka ia akan dinilai sebagai pangkal dari pahala untuk bekal di akhirat nanti. Ambil contoh misalnya belajar atau thalabul ilmi. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang tak nampak nyata manfaatnya, seringkali ia akan dinilai sebagai sesuatu yang mendatangkan dosa dan hukuman di akhirat kelak. Misalnhya video game online yang sering di mainkan oleh para remaja saat ini.

Kedua contoh di atas merupakan penilaian yang bersifat lahiriyah, kedua perbuatan tersebut nampak bagi orang lain dari luarnya (dhahir). Penilaian (judgement) sebatas lahiriyah seperti itu tidak dianjurkan, apalagi derajat pangkat kita yang sama-sama manusia. Sebab ada lapisan dalam (bathin) yang juga perlu diperhatikan. Pada contoh di atas, bisa saja seorang yang secara lahiriyah hanya bermain game online, namun dari segi batiniyah memiliki niat yang baik. Misalnya bermain game ia niatkan sebagai upaya agar tidak melakukan tindakan maksiat, seperti menonton blue film, menyebar hoax, caci maki dan lainnya yang jelas-jelas mendatangkan dosa. Begitupun sebaliknya, bisa saja ia yang terlihat rajin dalam belajar ternyata hanya untuk mendapat pujian dan untuk pamer (riya’).

 



Semua hal tersebut kembali kepada niat dalam masing-masing diri. Ia bersifat batiniyah, tidak terlihat sebab berada pada wilayah hati seseorang yang orang lain tidak bisa mengetahuinya. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: 

…إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya semua perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan (balasan) sesuai niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Kitab Risalatul Mustarsyidin karangan Abu al-Haris Al-Muhasibi dijelaskan bahwa banyak amalan yang bentuknya kegiatan duniawi bisa menjadi amal akhirat sebab niat yang baik. Begitupun sebaliknya, banyak amalan yang nampaknya bernilai ukhrowi  justru menjadi penghalang amal akhirat sebab niat yang buruk. Oleh karena itu seyogyanya kita memanfaatkan seluruh aktivitas yang kita lakukan sebagai ladang pahala atau bernilai amal akhirat. Hal ini sangat mudah sekali dilakukan, misalnya kita mulai dari yang paling sederhana seperti tersenyum kepada sesama, bekerja atau mencari nafkah untuk keluarga, sampai menolong satu sama lain yang tidak memandang latar belakangnya, hingga sebatas kegiatan ngopi atau duduk-duduk saja. Itu semua bisa bernilai ibadah apabila dibarengi dengan niat yang baik.

Apabila niat baik ini sudah bisa dicapai, maka hendaklah ia menggali lagi niat selanjutnya dan terus menggali sampai menjadi tumpukan kebaikan yang berlipat-lipat.

Misalnya, suatu ketika pergi ke majlis ta’lim dengan niatan untuk tholabul ilmi agar mendapatkan ilmu pengetahuan agama, nah setelah mendapatkan ilmu agama, saya niatkan lagi ilmu agama ini akan saya amalkan agar menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, setelah menjadi seorang yang berbudi pekerti luhur kemudian saya niatkan lagi agar menjadi sosok yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, kemudian niatkan lagi, niatkan lagi dan seterusnya sampai mencapai titik tertinggi dalam kebaikan yaitu derajat ma’rifat.

Jadi, pada level paling dalam, kita tidak tahu persis bobot dalam niat seseorang, entah ketika melakukan ritual keagamaan atau hal-hal yang bersipat keduniawian. Hanya Tuhan saja yang tahu. Oleh karena itu, tugas dari kita masing-masing adalah terus memperbaiki niat dalam melakukan berbagai aktivitas agar menjadi bekal amal akhirat.

 

Sumber gambar: unsplash.com
Editor: Bruno