Penulis: Doel Rohman

Serat Lokajaya, Kisah Rohani Sunan Kalijaga

Membaca naskah kuno untuk generasi kita saat ini bukanlah hal mudah. Apalagi naskah yang ditulis sekitar abad XVI – XVII M. Meskipun naskah-naskah tersebut lahir dari rahim budaya kita sendiri, namun perbedaan huruf yang digunakan saat naskah-naskah tersebut ditulis, seperti aksara Hanacaraka, atau bahasa Jawa yg ditulis dengan huruf Arab — sering disebut Arab pegon — dengan bahasa kita saat ini (latin), menjadi kendala utama naskah-naskah tersebut hilang dan terpinggirkan. Padahal dengan huruf-huruf tersebut sejarah serta khazanah keilmuan leluhur kita dituliskan.  Demikian pengantar Prof. Dr. Marsono SU, Guru Besar filologi UGM sebelum masuk ke  isi kandungan serat Lokajaya. Diskusi...

Baca lebih lajut

Situasi Pandemi, Saatnya Mengalamkan Alam

Kebiasaan saya ikut nimbrung dengan masyarakat (srawung) sering kali membuat saya mendapatkan kabar-kabar mengejutkan. Tak jarang, beragam keluh kesah menjadi bumbu manis perbincangan. Seperti ketika saya belanja di pasar, atau saat membeli bahan pokok makanan di warung-warung kecil pinggir jalan. Seperti biasa, sembari memilih barang, muncul perbincangan spontan dengan banyak pedagang, terutama berkaitan dengan situasi sosial ekonomi di kala pandemi COVID-19 ini. Sekilas dapat saya potret dari beberapa orang yang saya temui di pasar dan toko, muncul rasa was-was, ketidakpastian, terhadap melambatnya ekonomi di kala pandemi saat ini. Secara pribadi, saya melihat memang terjadi perubahan yang sangat signifikan di pasar tradisional hari-hari belakangan ini. Salah satu pedagang di pasar Giwangan, pasar induk terbesar di kota Yogyakarta, menyatakan, “Di waktu pandemi saat ini, penjualan memang tidak menentu. Meskipun pasar tidak akan ditutup, namun jumlah penjualan menurun drastis. Imbauan untuk selalu di rumah saja membuat banyak pembeli membatasi tatap muka secara langsung. Banyak juga warung-warung makan yang selama ini banyak pelanggan, kini menutup warung karena sepinya pembeli.” Selain ke pasar induk, hal yang sama terjadi di pasar yang lebih kecil, yakni pasar desa/dusun. Meskipun sirkulasi ekonomi di pasar seperti ini tidak begitu besar, namun kelokalan dan cakupan aktivitas ekonomi yang hanya melibatkan masyarakat sekitar sepertinya bisa menjadi representasi masyarakat paling bawah. Seperti apa sebenarnya aktivitas ekonomi sosial bergerak dan nantinya akan berjalan. Sama seperti di pasar Giwangan, beberapa pasar dusun tetap...

Baca lebih lajut

Gerak Lokalitas dan Universalitas dalam Islam

Perdebatan keagamaan selalu saja menyisakan pergumulan yang tak mudah diselesaikan. Antara benar dan salah, syariat dan non-syariat, lokal dan universal; tidak berhenti pada wilayah diskursus semata, tetapi merembes ke medan politik, kekuasaan, bahkan ke tingkat kebijakan hukum publik.  Hasilnya terkadang mengikat dan begitu kaku. Ketika syariat dijadikan hukum formal di tengah masyarakat, kita kadang abai, apakah benar basis argumen yang menjadi titik tolak bersumber dari nilai Islam yang universal agar layak menjadi acuan hukum yang mengikat di semua tempat dengan masyarakat, budaya, sosial, dan geografi yang berbeda? Atau justru hukum syariat yang sudah dianggap islami tersebut semata ekspresi budaya...

Baca lebih lajut

Muqoddaman, Cara Orang Nusantara Menjaga Alquran

Menjaga Alquran tidak hanya dengan menghapal dan mengkajinya, tapi ada cara lain yang tidak kalah penting, namun sekarang tidak banyak diperhatikan. Yakni, muqoddaman. Prosesi pembacaan Alquran secara bersama-sama dalam satu waktu dari mulai juz 1 sampai juz 30. Biasanya amalan seperti ini dilakukan oleh kelompok atau komunitas masyarakat sebagai kegiatan rutinan,  selain untuk mengisi acara-acara syukuran dan slametan ketika peringatan kematian, kelahiran anak, dan hajatan-hajatan lain khas masyarakat Islam. Muqoddaman yang mempunyai arti “awal” atau “yang paling awal”, berasal dari suku kata qodama-yuqoddimu-muqoddaman, menurut saya mempunyai makna esotoris yang  cukup menarik untuk kita gali dan perdalam lebih jauh. Terutama...

Baca lebih lajut

Islam Berkebudayaan, Cara Berislam Generasi Milenial

Foto: Mathori Brilyan Wacana keagamaan akhir-akhir ini terasa kering dan mandek dengan hal-hal yang serba hitam-putih. Perbincangan seputar agama hanya berkutat kepada persoalan boleh tidaknya cadar, sertifikasi halal produk berlabel syariat, serta politik keagamaan untuk saling berebut pengaruh. Corak agama demikian juga marak di kalangan anak muda milenial, meski pun tidak semua tentunya. Kecepatan dan kebiasaan instan seringkali menyebabkan pendangkalan terhadap diskursus agama. Agama hanya dikaitkan dengan urusan-urusan ubudiyyah berbaju syariat semata, yang ujung-ujungnya akan kembali ke benar-salah, halal dan haram. Bagi saya sendiri, fenomena keagamaan yang demikian memang sangat wajar sebagai konsekuensi logis atas situasi sosio-kultural kita, yang...

Baca lebih lajut
  • 1
  • 2