Penulis: Faisal Kamandobat

Pikiran-pikiran Ganjil Sofia (2)

Kelanjutan: Seni yang Membosankan (1) Pagi itu matahari bersinar hangat. Sofia, yang kesadarannya mulai pulih dari mimpi, dihampiri pikiran-pikiran yang ganjil: ia ingin menjadi cangkir teh yang sedang ia nikmati, atau bunga yang tengah ia pandang, atau pintu rumahnya yang berwarna putih. Mereka semua, pikir Sofia, menjalani takdirnya tanpa beban kesadaran dan rasa ingin tahu yang kadang terasa menyiksa dan melelahkan. Hidup tanpa kesadaran, walau hanya sejenak, merupakan jeda yang memberi kesadarannya beristirahat. Dalam kesendiriannya, Sofia seringkali merasakan, bahwa segala sesuatu tidak cukup dengan hanya diketahui nama-namanya, kegunaan-kegunaannya, serta macam-macam teksturnya—yang lembut dan kasar, yang berulir dan berpotongan. Dunia...

Baca lebih lajut

Senda Seni: Seniman ini Mendapat Pencerahan Berkat Ziarah Kubur

Dia adalah Bambang Herras, seorang pelukis luar biasa dari Bojonegoro, dengan banyak piala dari lomba-lomba seni di masa remajanya yang gemilang. Tapi, setelah masuk ISI di Jogja, seluruh prestasinya itu menjadi biasa-biasa saja mengingat hampir semua teman kuliahnya juga memiliki banyak piala seperti dirinya—kalau bukan malah lebih banyak. Namun, yang menegangkan dalam dunia seni rupa bukan soal berapa banyak pialanya, melainkan kekuatan karya sebagai gabungan misterius antara gagasan, teknik, manajemen dan penerimaan publik dengan bermacam-macam motivasi dan pengetahuannya. Menjalani hidup dalam dunia seni rupa yang penuh turbulensi, Bambang Herras biasa menetralisir ketegangannya dengan pergaulan yang hangat, penuh humor dan...

Baca lebih lajut

Senda Seni: Samuel Indratma Bicara dengan Jenazah Ayahnya

Bagi seorang anak laki-laki, kematian seorang ayah menimbulkan perasaan campur aduk yang luar biasa, antara kehilangan seorang pelindung, sahabat dekat sekaligus pesaing halus. Terlebih bagi sosok seperti Samuel Indratma– perupa kontemporer dan presiden mural Indonesia– yang kurang pandai menyembunyikan sifat keras kepalanya di balik nada bicaranya yang tak pernah keras dan tinggi. Namun, meski keras kepala, Samuel adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Di saat ayahnya sakit keras, Samuel membezuk dan selalu memijat dengan bakat alami yang dimiliki, merayu ayahnya hingga mau berobat ke Jogja, dan selalu menjaga di rumah sakit bersama dengan ibunya. Pada suatu malam, ayahnya...

Baca lebih lajut

Seni yang Membosankan (1)

Seorang pemuda dengan rambut ikal, bermata lebar dan dagu kuat—hampir seperti patung David, tapi dengan aura seorang pemuda dari pegunungan daripada pahatan seorang seniman legendaris—tenggelam dalam renungan tak biasa di beranda rumahnya. Ia telah mempelajari berbagai pendekatan dalam bermain gitar, memahami alat musik itu dalam berbagai bentuk dan bahannya, mendengarkan beragam suara yang dihasilkan para penyanyi terbaik dan menirunya, tetapi semua itu tak mampu menyelamatkan dirinya dari perasaan hampa yang tiba-tiba dialami seperti gelombang, tak henti-henti semenjak siang hingga menjelang senja. Rumahnya berada di lembah pegunungan utara kota yang masih sepi, dikelilingi persawahan dan ladang jagung serta sayuran. Mendiang...

Baca lebih lajut