Penulis: Mohammad Hagie

Para Peziarah yang Aneh

Kala senja membinar di saat Magrib menjelang, aku duduk di beranda dengan obrolan-obrolan yang terlontar jenaka, hingga kerut rona siluet panorama Magrib terlibas oleh malam. Orang-orang dibuat cemas oleh virus baru bernama COVID-19. Kampus-kampus mendadak diliburkan, toko dan warung mulai menutup diri dan memilih pulang kampung halaman. Magrib serasa begitu mengambang, lirih dan terabaikan. Masjid-masjid hanya menyisakan suara azan terdengar, “Solluu fii Buyutikum” salat di rumah, dan tidak ada salat berjamaah di masjid.   Rona-rona siluet langit jingga kemerahan perlahan terbenam. Aku beranjak ke Pondok Kaliopak. Pondok tempat aku melipat-lipat waktu jauh panjang ke belakang, ziarah waktu pada leluhur, hingga...

Baca lebih lajut

Para Peziarah yang Aneh

Kala senja membinar disaat magrib menjelang, duduk di beranda dengan obrolan-obrolan yang terlontar jenaka, hingga kerut rona siluet panorama terlibas oleh malam. Magrib serasa begitu mengambang, lirih dan terabaikan. Orang-orang dibuat cemas oleh virus baru bernama covid-19. Ugm, Uny, Uin, Upn, dan berbagai kampus lainnya mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan seluruh aktifitas kelas dan kerumunan di kampus. Alternatifnya, kampus memberlakukan sistem kuliah daring. Suasana memang cukup genting. Namun semuanya seolah dibuat keruh dan panik oleh media, khusunya online. Jika kita mau merenung sedikit saja, jika kita semua adalah kaum beragama, mengapa kita dibuat takut yang berujung panik oleh keadaan. Bukankah agama mengajarkan untuk bertahan akan ketidakpastian. Itu adalah jalan utama ketuhanan. Dengan begitu, Tuhan menguji kita untuk tetap tenang. Jalan takwa atau kehati-hatian adalah jalan benar, ia adalah jalan menenangkan, tidak takut yang berujung pada kepanikan. Namun naluri manusia tetap saja menjalar tak beraturan.   Rona-rona siluet langit perlahan terbenam. Aku beranjak pergi ke pondok kaliopak. Pondok tempat aku melipat-lipat waktu jauh ke belakang, ziarah waktu pada leluhur, hingga hembusan nafas begitu terasa nyambung iramanaya. Sungguh, suatu hal yang tidak aku dapatkan dari peradaban baru abad ini, sebuah dunia yang berlari. Manusia dipacu oleh waktu, bertabrak-tabrakan, dan mengarah pada pusaran yang sama, ialah berhala-berhala baru abad modern yang mereka ciptakan sendiri. Sesampainya di pondok, aku menuju dapur untuk menyiapakan makan kembulan ngaji dewaruci, tugas pokok dharmaku di pondok memang memasak....

Baca lebih lajut

Pagi ke Pagi di Beranda

Pagi ini sedikit kelabu, mungkin karena sisa hujan semalam. Aku bangun dari tertidur sendiri. Masih menyisakan sedikit bayang-bayang lorong malam, kelabu seorang perempuan yang diantarkan ibunya ke gereja di tengah malam natal. Lalu sembahyang pagi. Lalu sembahyang pagi. Sembahyang sasih tilem di pura-pura malam purnama. Dan bersamadi malam jumat di stupa vihara. Belakangan bulanan ini, aku sering sembahyang subuh di pagi hari, sudah memasuki waktu duha sebenarnya. Sejenak merenung pada relung-relung mimpi tadi malam. Rasanya sudah lama mimpi ini mengendap. Sorak-sorainya berlarian tak berarah. Ingin sekali aku meliriknya kembali, kembali ke lubuk dasar, usai pergi jauh. Fajar menyingsing kala...

Baca lebih lajut

Hujan Kemarau

Kau telah mengantarkanku pada musim hujan deru angin yang bersorak-sorai kian kesana-kemari gemuruh badai menggeliat mengoyak-koyak terseok tak tersisa melumatkan semua menyisakan aliran sungai mengantarkan pada laut Dan kau telah membasuhku atas segala dahaga kering kemarau panjang pada malam bulan pelabuhan semilir wangi purnama menerawangkan cahayanya Hening yang menyisakan sunyi sepi samadi dini hari kini, hanya kau dan aku basuh membasuh terbasuh kembali terbangun...

Baca lebih lajut

Labirin Imajiner

Dan lagi, terus begini-begini saja. Bayang-bayang akut pikiran yang masih melekat di kepala, mengalir pada tubuh layaknya sebuah labirin waktu: getir aku menyadarinya, ingin terbebas dari bayangannya. Labirin yang terus saja berjejalan pada titik bayang di antara kedua mataku, hyperreality. Aku masih saja termenung sendiri, merasa tak mampu berbuat. Kosong dan rendah gairah. Melankolia. Sepintas ingin aku bisa mereda semua, perlahan. Konsep kesaradaran “mindfulness” ajaran Zen-Budhisme. Ia menyarankan pada kita mengambil waktu (jeda) dalam sehari untuk bermeditasi. Dalam ajaran Zen, meditasi sebenarnya bisa dalam bentuk apa  saja: membaca, menulis, memasak, melukis, dan sebagainya. Namun dalam ajaran Budhisme, meditasi dengan...

Baca lebih lajut
  • 1
  • 2