Penulis: Mathori Brilyan

“Pesan Pandemi” Dina Triastuti

Sore itu, saya berkunjung ke rumah kontrakan Dina Triastuti, manajer Kalanari Theatre Movement. Di tengah obrolan kami yang ngalor ngidul, Dina mengatakan bahwa keesokan harinya ia akan pulang ke kampung halamannya di Mojokerto. Kemudian, terbesit keinginan dalam diri saya untuk bertanya terkait momen pandemi ini. Terlebih yang menjadi menarik ialah pengalamannya pada dunia manajemen seni. Dina mempunyai pandangan yang cukup segar ketika memperbincangkan bagaimana sebuah produksi seni dijalankan. Pemikirannya menggugah mengenai masa depan kultur kesenian kita yang mestinya dapat mempunyai posisi dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Selamat sore, Mbak Dina. Hari ini kan kita dalam momen yang sama ya,...

Baca lebih lajut

Di Balik Kelir: Kisah Elisha Orcarus Allasso

Siapa tidak mengenal Elisha Orcarus Allasso, sindhèn kocak yang sering tampil dalam pertunjukan wayang Ki Seno Nugroho. Namun, apakah sudah banyak yang mengenal sosok Elisha secara dalam? Siapa mengira bahwa menjadi seorang sinden merupakan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Elisha. Namun, ia mempunyai semangat belajar yang besar. Ia selalu gereget untuk mengetahui hal yang baru. Termasuk ketika ia masuk Jurusan Pedalangan ISI Yogyakarta dan menemukan dunia sinden di dalamnya. Pada kesempatan kali ini, kita akan menyimak kisah perjalanannya. Elisha mengibaratkan sawah atau ladang sebagai potensi diri. Lalu, kita bertugas untuk menyuburkannya agar menghasilkan buah yang bagus, yang...

Baca lebih lajut

Garis Hidup: Kisah di Balik Layar Setiyoko, Perupa Muda Asal Sukoharjo

Tepatnya kemarin sore, kami berencana akan melihat pameran di galeri milik seniman Ugo Untoro. Pertama kalinya berkunjung di galeri Museum dan Tanah Liat (MDTL) tersebut, saya bersama Setiyoko — kerap disapa Yoko — mahasiswa seni rupa angkatan 2013 ISI Yogyakarta. Tidak banyak yang saya ketahui tentang seni rupa. Namun, saya tertarik dengan keunikan pribadi beberapa teman yang berproses dalam seni rupa. Salah satunya, Yoko, pemuda asal Sukoharjo. Kami memasuki MDTL disambut dengan pekarangan memanjang yang dikelilingi tumbuhan hijau segar. Salah satunya, afelius (mungkin salah dalam penulisan) yang merupakan tanaman obat ampuh. Sebelumnya, saya menjumpainya — juga dengan Yoko —...

Baca lebih lajut

Kelak

Kelak, aku akan bercerita pada anakku : Nak, dulu sebelum kamu lahir, Sempat pada suatu waktu, Aku pernah minder pada Waktu   Aku yang kurang cekatan pada tugas Aku yang emosional pada keadaan Aku yang redup pada senyum matahari Aku yang berulang pada dosa Aku yang lalai pada ilmu Aku yang kurang pada kebermanfaatan Aku yang terombang-ambing pada keyakinan   Dan, Bumi kurang menyukai Bumi kurang mengapresiasi Bumi kadang bosan juga Bumi jadi berpikir ulang, Bagaimana cara terbaik menyampaikan sebuah nasehat?   Kemudian, Sebelum aku melanjutkan, Ibu mu datang, : Suatu saat kamu aku ajari ilmu musim penghujan, : Untuk apa? : Biar kamu tidak seperti Ayahmu itu : … … …   Hujan turun, Malaikat menerbangkan rumah Kami, Kami diatasnya, memberi kabar pada langit Kami nitip pesan buat hujan, : Izinkan setiap tetesmu menjadi karunia terbaik Zaman ini.   Hap! Kami terbangun : Besok lagi jangan ngawur memberi dongeng buat Anakmu : (..bersamb…..)   Ilustrasi : Foto Mathori Brilyan...

Baca lebih lajut

#dirumahsaja : Belajar dari Nyepi

  Memperbincangkan tentang corona, kita telah banyak mendapat asupan referensi yang bersumber dari berbagai lintas media dengan dasar kelimuan yang beragam. Hari ini, hampir genap 1 bulan kita bersama, dalam sebuah percakapan langsung maupun lewat media online. Siapa yang tidak memperbincangkan corona? Berapa kali jumlah kata xorona terucap melalui lisan manusia, setiap harinya, setiap jamnya? Mengenai corona, kebanyakan dari kita berpandangan bahwa kita semua memiliki potensi terjangkit virus corona. Ditambah, kita sempat kehilangan pilihan dalam memilih kabar, berita, atau tema obrolan yang tidak lain hanya terarah pada satu frekuensi yang sama: corona. Sebagai sebuah virus, ia telah menjalar pada setiap sendi-sendi kehidupan. Ia telah menjelma menjadi suatu kebijakan untuk menutup akses pertemuan, apapun bentuknya, apapun kepentingannya. Untuk mencegah penyebaran virus tersebut, kita bersama serempak mengheningkan cipta dan beraktivitas di rumah saja. Telah ramai media sosial kita dipenuhi #dirumahsaja. Sebagai virus, corona telah memancing yang sebelumnya jarang nampak menjadi sebuah kebutuhan untuk terlihat jelas. Bahwa ketika manusia dengan #dirumahsaja memiliki kesempatan lebih longgar untuk berdiam diri dan berpetualang pada sebuah jagad pengetahuan yang sebelumnya mungkin jarang terjamah. Sebagai virus, corona pun telah mengantarkan kita pada sebuah kondisi diri yang menyepi. Kita diberikan kesempatan untuk mengenali jagad pengetahuan yang ada di dalam diri. Dalam sebuah tradisi agama Hindu, kita telah mengenal apa yang disebut Nyepi. Berangkat dari sini, kita dapat membedah jagad diri dengan melihat nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Nyepi...

Baca lebih lajut
  • 1
  • 2