Penulis: MUNIR SENTOT

Kiai Nur Iman Mlangi, yang Dipertuan Dua Kerajaan

Kiai Nur Iman adalah seorang pangeran yang memilih jalan untuk menepi dari keraton dan menjadi orang biasa agar lebih leluasa memberikan pelayanan agama Islam. Nama kecilnya adalah Raden Mas Sandeyo. Beliau lahir dari seorang ibu bernama RA. Retno Susilawati, putri dari Adipati Untung Surapati. Ayahnya adalah putra dari Pangeran Puger (Pakubuwono I) yang bernama Raden Mas (RM) Surya Putra atau yang lebih dikenal sebagai Amangkurat IV. Saat terjadinya perselisihan antara Pakubuwono I dengan Amangkurat II, RM Surya Putra melarikan diri ke arah timur, tepatnya ke Surabaya. Di sana RM. Surya Putra memakai nama samaran Muhammad Ihsan dan nyantri di Pesantren Gedangan asuhan Kiai Abdullah Muhsin. Penyamarannya terungkap ketika pada sebuah acara di Pesantren Gedangan, Adipati Untung Surapati mengenalinya. Kemudian, sewaktu menghadap Kiai Abdullah Muhsin dan Muhammad Ihsan, RM. Surya Putra memperoleh perintah untuk berkunjung ke kediaman Untung Surapati. Saat itu Untung Surapati menghendaki RM. Surya Putra untuk menikahi putrinya, RA. Retno Susilawati. Selang waktu berganti. Saat RA. Susilawati hamil, RM. Surya Putra harus kembali ke Mataram. Sang istri dititipkan kepada Kiai Abdullah Muhsin dengan sebuah pesan: kelak jika anak itu lahir laki-laki akan diberi nama Raden Mas Sandeyo alias Muhammad Nur Iman. Dan benar adanya, anak yang dikandung RA. Retno Susilawati lahir laki-laki dan dinamai Raden Mas Sandeyo. Pemerintahan Amangkurat IV berlangsung antara tahun 1719-1726 Masehi. Di akhir hidupnya, ia teringat bahwa dahulu memiliki seorang anak yang dititipkan di...

Baca lebih lajut

Dari Kéré Munggah Balé hingga Perang Jawa

Bahasa Jawa bertaburan adagium. Ungkapan peribahasa yang digunakan sebagai semboyan, semangat, pujian, hingga makian. Dari sekian banyak adagium, yang masih melekat dengan sosok Pangeran Diponegoro adalah kéré munggah balé. Kalimat ini terucap saat Diponegoro menampar wajah Danurejo IV dengan sendal selop. Tindakan ini dilakukan akibat Pangeran Diponegoro geram terhadap ulah licik dan culas Patih Danurejo IV. Peristiwa ini terjadi pada suatu perjamuan di Keraton Mataram yang dihadiri pihak Kraton dan wakil pemerintah Belanda. Akibat ulah licik dan culas Danurejo IV, Kraton Mataram masa Hamengkubuwono IV (HB IV) nyaris mengalami kebangkrutan. Bahkan, yang lebih mengkhawatirkan bagi Diponegoro adalah kemerosotan moral keluarga dan kerabat Keraton Mataram akibat pengaruh penjajah Belanda. Kéré munggah balé memiliki arti: seorang miskin yang naik derajat memasuki istana. Meski sudah berada di istana, namun sikap miskinnya masih dibawa. Jika dikontekskan dengan bahasa kekinian bisa disejajarkan dengan istilah “orang kaya baru”. Mulanya Pangeran Diponegoro sendiri yang mengajukan nama Danurejo IV kepada pihak kolonial. Kala itu, Pangeran Diponegoro menjadi wali dari HB IV yang dinobatkan sebagai raja dalam usianya yang masih dua tahun. Jabatan wali inilah yang mengharuskan Diponegoro menjadi juru runding dan penasihat HB IV. Dalam sistem pemerintahan Kasultanan Mataram Yogyakarta sejak HB I, dikenal adanya Maha Patih yang bertugas mengurus bidang administrasi pemerintahan, pertanahan, dan perpajakan. Patih-patih itu ditunjuk secara turun temurun sejak Danurejo I. Melalui para patih tersebut, pemerintah kolonial Belanda melakukan intervensi terhadap Kasultanan Mataram....

Baca lebih lajut

Among-among

Among adalah istilah Jawa yang merupakan akar kata dari pamong, pamomong dan momong. Makna dari kata among secara harfiah adalah asuh atau mengasuh. Dalam khazanah keyakinan masyarakat Jawa, manusia lahir di dunia ini tidak dilahirkan sendirian, namun ada 4 saudara yang menyertai kelahiran seorang bayi yang biasa disebut sedulur atau saudara. Keempat sedulur itu adalah kawah (air ketuban) sebagai kakang (kakak), ari- ari (plasenta) sebagai adhi (adik), getih (darah), tali puser (tali pusar), serta dhiri (tubuh bayi) sebagai pancer (pusat). Naluri inilah yang hingga saat ini masih diugemi dan diyakini oleh masyarakat Jawa. Dan bahwa saudara ini hadir menyertai...

Baca lebih lajut

Tragisnya Makam Legenda Cinta Roro Mendut dan Pronocitro

Siapa yang menyangka makam tua tak terawat di tengah pekarangan warga di Kampung Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman itu adalah makam Roro Mendut dan Pronocitro?Orang sekitar menyebutnya Makam Roro Mendut. Untuk bisa sampai ke makam itu, peziarah bisa masuk melalui Jalan Wonosari kilometer tujuh. Masuk ke arah kanan jika berangkat dari Kota Yogyakarta.Jalan menuju makam mudah ditelusuri karena berada dalam lingkungan kampung yang telah maju. Namun, sesampainya di lingkungan makam akan tampak lanskap pekarangan yang tidak terurus. Pepohonan yang rimbun, juga rumpun bambu yang menaungi cungkup makam membuat situasi terasa singup.Karena pemakaman umum Kampung Gandu terletak di lain tempat, maka...

Baca lebih lajut