Rubrik: Coretan

Belajar dari Telapak Tangan

Satu-satunya anggota tubuh yang hampir dapat menjangkau seluruh bagian tubuh adalah telapak tangan. Kita bisa menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan ketika di jalan terkena polusi asap kendaraan atau menemui bau tak sedap. Jika sedang pegal, kita bisa memijat-mijat sendiri bagian tubuh yang pegal dengan telapak tangan.

Buat kalian yang sedang menikmati hubungan percintaan dengan kekasih, jika kalian sedang ada masalah, mengulurkan tangan sebagai permintaan maaf menjadi solusinya, kemudian kekasih akan menyambutnya, dan telapak tangan sepasang kekasih bertemu dengan hangat.

Pendidikan akhlak dasar yang diberikan anak salah satunya juga membiasakan untuk mencium kedua tangan orang tua. Kemudian orang tua akan membelai lembut kepala atau pundak si anak, dan memberikan doa-doa untuk tumbuh kembang anak.

Jika dalam pengetahuan khusus, telapak tangan yang dimiliki seseorang konon dapat mencerminkan pribadi dari orang tersebut. Dan pada beberapa orang yang diberikan karunia pengetahuan dan ilmu yang khusus, dengan telapak tangannnya ia dapat memberikan manfaat kebaikan kepada orang lain. Misalnya, seseorang yang ahli dalam kesehatan tubuh manusia, dengan memberikan sentuhan telapak tangannya, ia dapat membantu meredakan tubuh yang sedang sakit.

Dengan telapak tangan, kita dapat meminta. Dalam posisi berdoa, kita yang sesungguhnya berpasrah dan meminta apa yang kita inginkan agar dikehendaki oleh Tuhan, kita menengadahkan telapak tangan kita.

Kita membuka telapak tangan kita, pada posisi di depan dada. Pada jantung yang berdetak, telapak tangan terberikan rintik karunia kepasrahan dan ketenangan dalam berdoa. Dengannya, telapak tangan terilhami energi kebaikan untuk sentuhan-sentuhan hangat dalam aktivitas keseharian kita.

Ketika berjabat tangan, pun juga kita dapat memahami sebagai cara saling mendoakan. Memberikan energi kebaikan yang tersalurkan lewat sentuhan telapak tangan. Keberkahan pun dapat dirasakan ketika kita diberi kesempatan bertemu seorang ahli ibadah, lalu kita menundukkan tubuh, berjabat tangan dan menciumnya, atau menempelkananya pada dahi, sebagai tanda menjaga akal kita.

Belajar dari telapak tangan, kita dapat lebih memahami sesuatu yang sederhana di sekitar kita. Semoga menjadi motivasi semangat dan inspirasi pada hari-hari panjang yang akan dijalani. Selamat melanjutkan aktivitas kembali. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca. (MA)

Mathori Brilyan

Sarjana seni teater dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Bagikan
Diterbitkan oleh
Mathori Brilyan

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

6 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

6 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu