Rubrik: Ulasan

Bukan Saatnya untuk Dilema: Pertemuan Massa Mesti Ditunda

Dialihbahasakan oleh redaksi dari esai surat No time for dilemma: mass gatherings must be suspended”, The Lancet..


Bukan Saatnya untuk Dilema: Pertemuan Massa Mesti Ditunda

Surat terbuka oleh:

  • Ziad A Memish | Deputi Menteri Kesehatan Arab Saudi untuk Kesehatan Publik
  • Qanta A Ahmed | Divisi Paru-paru dan Pengobatan Kritis, Departemen Pengobatan Rumah Sakit NYU-Winthrop, Amerika Serikat
  • Patricia Schlagenhauf | Direktur Bersama Pusat Kolaborasi WHO untuk Kesehatan Perjalanan di Institut Epidemiologi, Biostatistik, dan Pencegahan
  • Seydou Doumbia | Fakultas Pengobatan dan Odontostomatologi, Pusat Riset Klinis Universitas Sains, Teknologi, dan Teknologi Bamako, Mali
  • Anas Khan | Pusat Global untuk Pengobatan Pertemuan Massa, Kementerian Kesehatan Arab Saudi

Pandemik virus corona 2019 (COVID-19) mengakibatkan tekanan yang belum pernah ada sebelumnya pada masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Pandemik pertama di abad ini membutuhkan tindakan kolektif, tegas, dan terpadu secara internasional yang melibatkan individu, komunitas, badan-badan usaha, institusi-institusi, dan pemerintah untuk menjalankan mitigasi atas efeknya yang kian meluas. Setiap hari semakin banyak negara yang menutup perbatasan, memulangkan warganya, dan melarang perjalanan wisata. Sebagian besar perjalanan udara antarbenua telah dihentikan.

Imbauan preventif kesehatan masyarakat umumnya difokuskan pada higienitas tangan dan penjarakan sosial. Penjarakan sosial mustahil terwujud pada pertemuan-pertemuan massa. Kami membaca komentar dari Brian McCloskey dan rekan-rekannya, mengadvokasikan asesmen risiko formal sebagai prosedur untuk meluluskan perizinan pertemuan massa di masa COVID-19, isinya cukup membingungkan. Sebagai ilmuwan, kami berkomitmen pada keterbukaan perspektif dan perbedaan pendapat, tetapi advokasi asesmen risiko untuk pertemuan massa sama halnya memberikan persetujuan eksplisit atas penundaan aktivitas pengumpulan massal pada masa eskalasi pandemi global.

Pembelaan atas perspektif tersebut melampaui batas perbedaan pendapat. Para peneliti bidang pertemuan massa telah secara mutlak merekomendasikan penundaan ibadah umrah dan kemungkinan penundaan ibadah haji dan Olimpiade. Pendapat bahwa pertemuan massa seperti Olimpiade cukup layak untuk diuji melalui asesmen risiko, dan karenanya memiliki peluang untuk diselenggarakan pada masa seperti sekarang ini, berlawanan dengan pesan preventif kesehatan masyarakat mengenai higienitas dan penjarakan sosial. Hal itu akan membawa pesan yang menyesatkan pada publik, pada para pembuat kebijakan, juga berbagai pemangku kepentingan yang telah telanjur berinvestasi. Tak lama setelah opini ini ditulis, Olimpiade secara resmi ditunda hingga tahun 2021.

Tentunya, jika COVID-19 masih tertahan dalam kantong-kantong terisolir di berbagai penjuru dunia, rekomendasi semacam itu akan cukup masuk akal. Akan tetapi, saat ini, dunia telah takluk pada pandemi bebas yang nampaknya akan terus bereskalasi. Mengizinkan pertemuan massa di tengah masa seperti ini berpotensi membahayakan jutaan hadirin, yang nantinya pada saat mereka pulang akan membawa bahaya tersebut pada saudara sebangsanya masing-masing.

Telah banyak bukti yang mendukung pembatalan pertemuan massa. Banyak pula bukti kegagalan atas upaya untuk melokalisir pertemuan massa dalam masa pandemik. Penundaan pemerintah Arab Saudi atas ibadah umrah terbukti preventif, sedangkan keputusan pemerintah Iran untuk mengizinkan pertemuan massa di Mashhad dan Qom terbukti membawa bencana.

Pertimbangan lebih lanjut yang mendukung pembatalan pertemuan massa termasuk laporan-laporan atas morbiditas kaum muda, kemampuan partikel virus untuk bertahan di permukaan-permukaan halus, dan gelombang infeksi berulang-ulang. Pertimbangan-pertimbangan tersebut krusial tanpa mengecualikan pertemuan massa yang umumnya dihadiri anak-anak muda, seperti pertandingan olahraga, konser musik, dll. Pada pertemuan-pertemuan massa yang kebanyakan dihadiri orang berusia lebih tua dan lebih rentan dengan komorbiditas (umumnya acara agama), pertimbangan-pertimbangan tersebut bahkan lebih relevan. Lebih lanjut, tingkat kepadatan dalam pertemuan massa membuat penjarakan sosial dan disinfeksi berlanjut pada benda-benda menjadi mustahil.

Perjangkitan wabah yang terjadi pada pertemuan massa juga bisa menjadi penyemaian bibit gelombang infeksi melalui perjalanan regional dan internasional. Akhirnya, meski pertemuan massa telah direncanakan secara matang, jika lintasan viral evolusioner sindrom pernafasan akut virus corona 2 (SARS-CoV-2) sudah bisa dipastikan, kampanye pertemuan massa hanya akan mendorong terpantiknya kembali pandemik. Meskipun respons awal manusia bisa dianggap sebagai kepanikan dalam masa krisis, namun tak jarang segera disusul dengan kepuasan yang terlalu dini. Sebagai tokoh kesehatan masyarakat, kami tak mungkin mengizinkan dukungan – meski tak terucapkan – atas pertemuan massa di tengah fenomena global yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti sekarang ini. Ketika para pemerintah juga sistem ekonomi dan sosial telah sepakat untuk meningkatkan intensitas upaya menuju konsep penjarakan sosial yang mengandung tantangan secara ekonomi dan personal, seruan apa pun untuk mempertimbangkan pertemuan massa akan menyampaikan pesan yang saling bertentangan dan membingungkan publik.

Bersama-sama, kita harus berkomitmen pada segala upaya untuk mengangkat seruan tegas dan padu demi memerangi pandemik. Pembatalan pertemuan massa bisa jadi traumatis bagi seluruh pemangku kepentingan, namun dengan mempertimbangkan sifat virus SARS-CoV-2, risiko pembawaan dan penularan tanpa gejala, pesan preventif kesehatan masyarakat mengenai penjarakan sosial dan higienitas tangan, juga berbagai misteri lainnya, hampir tak mungkin ada pilihan lain.

Surat ini dituliskan tanpa kepentingan komersial atau politik apa pun. (MA)


DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30754-6

© 2020 Elsevier Ltd. All rights reserved.

Pustaka Kaliopak

Penerbit buku dan berkala yang dikelola oleh santri Pondok Pesantren Budaya Kaliopak guna menyebarluaskan gagasan Islam Berkebudayaan.

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

5 bulan yang lalu