Rubrik: Ngaji

Cerita Perjalanan “Syahadat”

Jika kita mendengar kata syahadat, hal yang pertama kali terbayang adalah tentang ikrar persaksian seorang  manusia atas keesaan Allah SWT. dan Kerasulan Nabi Muhammad SAW.  Masihkah kalian mengingat kapan pertama kali mengikrarkanya? Apakah syahadat hanya menjadi rutinitas dalam bacaan salat? Sejauh mana syahadat menjadi bukti saksi laku hidupmu?

Dalam sejarah penciptaan manusia, kitab suci Alquran mengisahkan, sebagaimana yang dituturkan Syaikh Mahmud Junaid al-Baghdadi  dalam risalahnya, bahwa sebelum akhirnya manusia dilahirkan di dunia ada dunia ruh, yakni dunia yang mempertemukan Yang Haq dengan Haq. Haq pertama adalah Allah SW.T dan Haq yang kedua adalah manusia yang saat itu ada dalam kandungan. Kedua Haq ini merupakan bentuk yang sejati dan murni.

Kisah percakapan kedua Haq terabadikan dalam QS. al-A’raf: 172.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” tanya Tuhan.

“Iya, kami bersaksi engkau Tuhanku,” jawab manusia di Alam Ruh.

Kesaksian yang tergambar dalam percakapan yang diabadikan dalam Alquran di atas disebut oleh Imam Junaid sebagai “mitsaq” yang berarti perjanjian. Ketika akhirnya manusia dilahirkan di dunia, sebenarnya ia sedang dalam mewujudkan perjanjian ini, memenuhi perjanjian bahwa Allah adalah yang Maha Esa dan menjadi satu-satunya tujuan.

Lantas, bagaimana cara manusia mengenal Allah setelah bersaksi dengan syahadat?

Salah satu cara manusia mengenal Allah adalah dengan mengakui ketidakmampuan  mengenal-Nya. Karena Allah mempunyai sifat laisa kamitslihu syaiun, tidak ada apa pun yang bisa menggambarkanya, termasuk konsep, gambaran, dan hal-hal yang  digunakan manusia untuk mengimajinasikannya. Maka dalam kalimat tauhid diawali dengan laa ilahaa, dengan menggunakan huruf nafi berupa la yang tujuannya menafi-kan segalanya kecuali  Allah SWT. meliputi pikiran, gagasan, bayangan yang hal itu tidak ada dalam jangkauan. Model seperti ini, dalam studi agama disebut teologi negatif. Hal tersebut  ibarat ketika seseorang ditanya siapakah si A? Ia menjawab dengan mendeskripsikan bahwa si A bukn yang berambut ikal, bertato, atau pun suka berjalan merunduk.

Mahasuci Allah yang menjadikan jalan bagi hambanya melalui kemampuan tidak mengenal-Nya. Waallahulmuwaaffiq. (MA)

Sumber Gambar: http://icmi.or.id

Aina Masrurin

Kader PW Fatayat NU DIY nyambi ngabdi di Bumi Cendekia Yogyakarta

Bagikan
Diterbitkan oleh
Aina Masrurin

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

6 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

6 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu