Rubrik: Seni

Di Balik Kelir: Kisah Elisha Orcarus Allasso

Siapa tidak mengenal Elisha Orcarus Allasso, sindhèn kocak yang sering tampil dalam pertunjukan wayang Ki Seno Nugroho. Namun, apakah sudah banyak yang mengenal sosok Elisha secara dalam? Siapa mengira bahwa menjadi seorang sinden merupakan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Elisha. Namun, ia mempunyai semangat belajar yang besar. Ia selalu gereget untuk mengetahui hal yang baru. Termasuk ketika ia masuk Jurusan Pedalangan ISI Yogyakarta dan menemukan dunia sinden di dalamnya.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menyimak kisah perjalanannya. Elisha mengibaratkan sawah atau ladang sebagai potensi diri. Lalu, kita bertugas untuk menyuburkannya agar menghasilkan buah yang bagus, yang akan disukai banyak orang. Begitulah sawah atau ladang yang dimiliki Elisha, yaitu dunia sindhen wayang yang sedang ia petik “buah karyanya”.

Saya, pada beberapa hari lalu, menghubungi Elisha dan meminta izin untuk mewancarainya. Ia menyambut dengan ramah dan dengan senang hati bercerita serta menjawab beberapa pertanyaan. Berikut wawancara saya dengan Elisha.

Bagaimana proses perjalanan Mbak Elisha menjadi sindhèn dalang Ki Seno Nugroho?

“Awalnya karena penelitian tahun 2015, waktu masih proses skripsi. Aku cuma kenal aja. Kenalnya karena objek penelitian. Dulu sebenarnya tidak terlalu suka dengan Pak Seno. Karena, kalau sekolah di Pedalangan itu, kita lebih digiring untuk menyukai dalang-dalang klasik. Itu perasaanku, ya. Hehehe…”

“Terus aku coba mematahkan konsep itu dengan meneliti Pak Seno yang dulu belum seramai sekarang. Dulu, pertunjukan Pak Seno lakunya 15 sampai 18 kali dalam sebulan. Dulu sebenarnya yang ramai, kalau aku gak salah ingat, itu Pak Tono Hadi Sugito. Kalau Pak Tono lebih ke arah Hadi Sugito, jadi punya penggemarnya sendiri.”

“Aku memutuskan untuk meneliti Pak Seno. Aku mulai datang ke TKP, memperhatikan penonton, dan pertunjukan Pak Seno. Sampai pada waktu itu aku memutuskan untuk bertemu dengan Pak Seno. Awalnya, aku hanya silaturahmi biasa. Memperkenalkan diri, ngobrol ngalor ngidul.”

“Sebenarnya, Pak Seno susah diajak wawancara kalau tidak benar-benar kenal, akrab, atau nyaman. Biasanya, jawabnya pendek-pendek. Hehehe... Ya, mungkin gitu, gak banyak bicara. Akhirnya, aku melakukan pendekatan. Aku banyak bercerita tentang dunia pedalangan. Bagaimana Pak Seno mengembangkan pedalangan.”

“Kemudian, waktu itu, Wargo Laras kekurangan sindhèn. Aku lalu diajak. Aku coba. Aku kan sering lihat pertunjukannya. Jadi, aku menyesuaikan aja.”

“Aku jadi ikut… apa sih namanya? Manjing! Ya, manjing sama pertunjukannya.”

“Awalnya, aku cuma sindhèn cadangan aja. Kalau sindhèn dari Wargo Laras ada yang gak bisa, baru aku gantiin. Tapi akhirnya aku sering diajak karena aku banyak ngomong, seneng ngomong, jadi bikin pertunjukan sendiri dengan Pak Seno. Aku coba eksperimen diriku sendiri dengan pertunjukan Pak Seno.”

“Kemudian, sampai aku selesai penelitian itu, aku sering diajak menjadi sindhèn Wargo Laras sampai aku S-2. Ketika S-2 aku kan meneliti lagi Pak Seno, tapi lebih ke penontonnya. Bagaimana pertunjukan Pak Seno dapat menyedot perhatian banyak orang. Di akhir S-2 aku lebih intens. Aku mulai di-tanting untuk masuk ke Wargo Laras karena aku termasuk banyak track record-nya.”

“Ya gitu lah pokoknya. Gak tau karena apa pertimbangannya, mungkin bisa tanya Pak Seno sendiri. Dari situ aku mulai jadi anggota Wargo Laras. Kemudian, September tahun… tahun berapa ya? Tahun lalu. Pokoknya aku udah satu tahun-an jadi sindhèn di Wargo Laras yang benar-benar Wargo Laras.”

Sebagai perempuan, apa yang membuat Mbak Elisa tertarik dengan dunia wayang?

“Hmm… kalau tertarik, awalnya gak terlalu tertarik sih sebenarnya. Tapi, apa ya? Aku tuh orangnya gampang penasaran, kan. Dulu tahu di wayang itu kan semiotikanya dalam. Dia mengandung simbol-simbol. Kemudian di wayang itu kan banyak nilai-nilai yang diambil. Baik itu mikrokosmos maupun makrokosmos. Bisa menyimbolkan sifat manusia dan alam semesta. Jadi, cerita-cerita wayang itu sebenarnya simbolis. Ada cerita wayang yang menyimbolkan tentang tata surya.”

“Makanya aku suka kok bisa multitafsir. Bayang-bayang yang multitafsir. Dia dianggap lugu bisa. Mau dianggap hiburan bisa. Yang dalam bisa, seperti contohnya mengandung unsur filsafat, semiotika, dan mitologi.”

“Pertunjukan itu bisa dalam banget. Misalnya, nih, kita akan meneliti pertunjukan wayang “Romo Tambak” oleh Ki Seno. Bisa dikaji banyak banget. Humornya, mitologinya, semiotikanya, penontonnya, bentuk seni pertunjukan, dan manajemen seni pertunjukannya. Banyak pokoknya. Dari situ aku mulai tertarik.”

Dulu, apakah pernah tebersit keinginan menjadi dalang atau sinden wayang?

“Dulunya kapan dulu ni? Hehehe… Kalau waktu kecil enggak pernah. SMP enggak, SMA juga enggak. Enggak ada sama sekali punya pemikiran tentang jadi sindhèn atau dhalang. Dalam kamus impianku gak ada tebersit menjadi dhalang atau sindhèn wayang. Hehehe...”

“Dulu, aku masuk pedalangan awalnya karena aku ingin menjadi peneliti. Karena aku orangnya memang selalu penasaran. Tapi lama kelamaan setelah masuk ternyata ada ketertarikan lain gitu lho. Aku cuma ngikutin jalan aja.”

“Misalnya, nyoba nyindhèn. Wah, bagus juga ni! Kemudian, wah, dapat duit ni dari nyindhèn. Terus belajar lagi. Oh, ternyata sindhèn ada tingkatannya. Oh, ternyata kalau tambah tingkatan, makin bagus. Kalau makin bagus, bisa makin laku. Kalau makin terkenal, penghasilan bisa nambah. Jadi, aku pikir itu bisa jadi kerjaan part-time-ku yang sangat worth it. Makanya aku memperdalam sindhèn. Tapi gak disengaja itu malah jadi kerjaan utamaku, yang menghidupiku, bahkan yang membantuku menyelesaikan S-2. Gak sengaja banget untuk jadi sindhèn.”

“Kalau soal dalangnya, ya otomatis, karena aku masuk pedalangan, jadi ya harus bisa dalang walaupun cuma sedikit, karena ujiannya kan juga mendalang. Sebenarnya jadi sinden sama dalang itu lebih sulit ke dalangnya menurutku. Mungkin karena aku sekolah di Pedalangan dan aku belajar lebih dalam. Aku lebih ke teorinya, ya, dulu. Pemikiranku, tanggung jawab menjadi dalang itu sangat berat. Makanya aku kadang belum terlalu enjoy untuk jadi dalang. Belum sampai ke titik itu. Mungkin besok suatu saat.”

Adakah orang atau hal tertentu yang selalu menyemangati Mbak Elisa?

“Sebenarnya yang menyemangati ya perjuangan hidup ini. Kalau aku yang utama, karena itu yang menghidupimu, ya karyakan. Itu yang jadi sawah ya gimana caranya tanahnya harus subur dan menghasilkan padi lagi. Sama kalau menjadi sindhèn, tadinya yang part-time ternyata subur, menjadi pendapatan, ya harus di-opèni kan.”

“Perumpamaannya ya sawah. Udah aku bajak, aku rawat sedemikan rupa, kemudian padinya disukai orang-orang. Terus masak ya mau aku anggurin. Jadi ya harus profesional. Namanya juga… apa ya? Buah karya kan. Kayak gitu. Jadi yang membuat semangat ya karena orang-orang yang menikmatinya.”

Situasi pandemi ini, apakah banyak jadwal yang ditunda atau dibatalkan? Bagaimana tanggapan Mbak Elisa?

“Hmm… banyak. Banyak jadwal yang ditunda dan dibatalkan. Bahkan sampai Juni, Juli. Yang masih aman Agustus, September. Tapi gak tau situasi pandemi ini sampai kapan.”

“Ini kami gak ada pendapatan lain. Kalau sebagai seniman, mampet ya mampet. Karena gak mungkin juga kita ngundang keramaian. Jadi yang kita miliki ya tabungan, itu pun yang punya tabungan. Padahal, kebanyakan yang banyak malah punya hutang. Syukurlah aku punya tabungan, jadi ya masih bisa untuk melanjutkan hidup. Hehehe…”

“Yang jelas kalau soal tanggapan tentang pandemi ini, gak tau sih, yang jelas semuanya lagi mikir, gimana caranya agar bisa tetap berbudaya, tapi kan sekarang ekonomi lagi lesu ya. Semua bingung juga.”

“Sementara ini, Pak Seno lagi bikin wayang climen itu. Lumayan sih, dapat tanggapan positif. Tapi juga gak tau bisa berlanjut sampai kapan. Itu berupa pertunjukan amal. Seniman kecil kayak kami itu emang gak ada pilihan lain. Masih lesu semua, masih shock. Jadi ya pelan-pelan aja dijalani.”

Kesibukan apa yang sedang dilakukan Mbak Elisa pada situasi Pademi ini?

“Sebenarnya aku di rumah aja. Gak terlalu banyak kesibukan. Aku sebenarnya pengen ngelanjutin S-3 yang benar-benar sedang aku mantapkan. Seharusnya masuknya bulan Juli. Tapi aku pun belum bikin proposal. Masih tahap pemantapan. Kalau aku sudah mantap, mungkin nanti untuk mengisi kegiatan di bulan Ramadan, aku membuat proposal penelitian untuk S-3-ku.”

“Kemarin, sebelum Paskah, aku ngelakuin bakti sosial yang diberi nama hashtag programnya #sihsesami. Di-support banget sih sama orang-orang. Mereka donasi, terus aku jalanin. Aku beli sembako per pack 150 ribu. Yang ngasih ide ada teman dari Klaten. Terus aku share, ternyata banyak juga yang kasih donasi. Jadi, bisa naik dua kali lipatnya. Tadinya cuma 50 pack, ternyata bisa 110 pack.”

“Kemudian aku ajak teman-teman karawitan. Sebelum ikut Wargo Laras kan dulu aku ikut Kecubung Sakti. Ya udah aku ajak mereka. Kita ada delapan orang pake dua mobil untuk turun ke jalan, berbagi ke orang-orang yang membutuhkan.”

“Terus aku juga ada pertunjukan Wayang Climen di rumah Pak Seno. Aku udah datang dua kali ke sana. Pertunjukan amal itu. Selain itu ya aku ngelakuin kegiatan rumah biasa aja. Nonton film, olahraga, masak-masak dikit. Ya gitu-gitu aja, kegiatan rumahan kayak gitu ya, Mas.”

Terakhir, pesan untuk pekerja seni dan masyarakat dari Mbak Elisa?

“Untuk pekerja seni, jangan lesu. Kalau bisa tetap berkarya dengan cara apapun. Berkarya dari rumah atau cari ide lain juga bisa. Jadi, semoga dengan adanya pandemi ini bukan membuat kita lemah, tapi membuat kita lebih kreatif untuk membuat karya seni.”

“Kemudian, untuk masyarakat, apapun yang terjadi, kita tetap harus berjuang. Berjuang bisa dari rumah, bisa juga dengan membantu sudara-saudara kita. Dan yang bekerja di luar rumah, untuk menjaga dirinya dengan physical distancing, menaati peraturan pemerintah. Apapun yang terjadi, kita tidak boleh lengah.”

***

Begitulah sedikit banyak cerita dari Elisha Orcarus Allasso yang telah memberi inspirasi bagi kita. Darinya, kita dapat belajar bahwa jalan kesuksesan bisa dari arah mana pun, bahkan tidak pernah terduga sebelumnya. Seperti yang telah dialami oleh Elisha; menjadi seorang sindhen berawal dari semangat belajar yang tinggi dan sikapnya yang selalu membuka peluang terhadap hal baru.

Dalam situasi pandemi ini, Elisha juga memberi motivasi agar kita senantiasa selalu bersemangat menjalani hari demi hari. Terlebih, esok, kita akan memasuki bulan Ramadan. Semoga kita dapat menyambutnya dengan rasa suka cita bersama sampai kondisi ini dapat segera pulih kembali. Terlebih agar masyarakat PWKS, yaitu Pecinta Wayang Ki Seno, segera terbayarkan kerinduannya melihat pagelaran wayang dari Ki Seno Nugroho serta penampilan dari sinden Elisha Orcarus Allasso.

***

Ilustrasi: foto koleksi Elisha Orcarus Allasso.

Editor: EYS

Mathori Brilyan

Sarjana seni teater dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

5 bulan yang lalu