Rubrik: Fiksi

Kupanggil Ia, Daddy!

Foto: Kebersamaan saya bersama “Daddy” yang sempat diabadikan lewat kamera ponsel. Dari kiri ke kanan : “Pak Ndut” Sumarna, saya, dan tiga bapak-bapak dari Kepolisian. Foto diambil ketika acara Sewindu Haul Gus Dur di Pondok Kaliopak tanggal Desember 2019.

Perkenankan pada kesempatan kali ini saya bercerita. Saya mempunyai seorang teman. Bukan teman seumuran, bukan juga teman yang dipertemukan lewat satu lingkaran pertemanan maupun pekerjaan.

Sekitar bulan Mei tahun 2019, teman saya itu datang. Bukan datang pada saya. Tapi, ia datang entah dari mana dengan membawa seperangkat diri dan cerita hidupnya untuk ikut hidup ber-sesandhing bersama kami. Ya, sebut saja kami ini merupakan sekumpulan beberapa orang yang meninggali sebuah tempat yang menghidupi kami, terutama dalam asupan kerohanian dan kebahagiaan, Pondok Pesantren Budaya Kaliopak.

Teman yang saya ceritakan tadi itu, pada bulan Mei 2019 datang ke Pondok Pesantren Budaya Kaliopak. Saya dan beberapa teman yang sebelumnya bertempat tinggal di pondok, tentu seperti memang kebiasaan kami jika ada “orang baru” datang, selalu kami sambut dengan sukacita dan berusaha menawarkan apa yang bisa saya/kami bantu. Namun agak berbeda dengan satu teman yang sedang saya ceritakan ini. Saya sendiri pada awalnya juga bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini, dan yang lebih menjadi pertanyaan saya, untuk apa, atau apa yang hendak dicari dengan ia bertempat tinggal di pondok.

Waktu berjalan, setelah beberapa bulan, teman saya itu tak terasa telah menjadi bagian dari kami. Melakukan aktivitas rumahan bersama dan menjalani semuanya dengan biasa tanpa ada kecurigaan, tanpa ada kecemburuan, bahkan sedikit demi sedikit, kita telah dikenalkan oleh rasa kepedulian dan kasih sayang.

Karena kalau boleh dibilang jujur, pada waktu awal, ketika keberadaan teman kami itu di pondok, saya pun mendapat beberapa informasi mengenai teman kami itu. Perlu diketahui bahwa teman saya yang menjadi intiné dalam tulisan ini merupakan salah seorang warga dari dusun di mana Pondok Kaliopak berada. Rumahnya hanya sepelemparan batu dari pondok. Jika dilihat dari identitas personalnya, teman saya itu merupakan seorang bapak yang mempunyai dua anak perempuan cantik, menjadi kembang desa di tempat ini. Beliau sungguh unik dan tidak jarang membuat banyolan lelucon yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kami. Karunia Tuhan memang dapat mewujud menjadi apa saja, mungkin, salah satunya keunggulan dari teman kami tersebut.

Beliau adalah seorang bapak yang pada masa hidupnya sebelum ia bertempat tinggal di pondok mengalami sebuah perjalanan hidup yang komplet. Mengapa saya dapat mengatakan demikian? Pada sebuah momen tertentu, saya pada akhirnya memberanikan untuk bertanya, “Sampeyan ning kéné jané arep ngopo?” Sebenarnya Anda di sini mau ngapain?

Hening sejenak, tidak ada suara apapun kecuali hewan serangga di pepohonan dan samar-samar suara mesin dari pabrik.

“Aku pengen tenang.”

Dari situ saya pelan-pelan belajar bagaimana memahami setiap orang yang dihadirkan dalam hidup saya. Bagaimana kita akan menanggapi setiap peristiwa yang terjadi dan kemudian bagaimana untuk memulainya dari sini menuju ke arah yang lebih baik. Kira-kira begitulah sejauh ini yang saya dapatkan dari pengalaman mengenali teman saya ini.

Teman saya ini, mungkin, pada saat ini sedikit unik. Seakan-akan dia tidak mau mendapat apa-apa dalam hidupnya. Namun, sepenuhnya saya tidak tahu. Sehari-harinya, ia melakukan aktivitas yang selalu sama jenis dan kisaran jamnya. Menyapu halaman, memberesi gelas bekas ngopi, dan menyanyi atau menelpon (konon kekasihnya) dengan ponsel miliknya yang hampir 24 jam tidak pernah lepas dari tangannya.

Untuk teman saya yang menjadi intiné dalam cerita ini, yang belum tersebutkan namanya, bagaimanapun beliau memang seorang bapak yang telah menjalani kehidupan yang lebih panjang dan beragam daripada saya, daripada kami. Pada sependek proses kebersamaan yang telah dilewati ini, kita telah benar-benar menjadi “Kita”. Mari bersama kita saling memberi inspirasi satu sama lain. Rasa hangat kekeluargaan mari kita jaga. Kesederhanaan dan kemesraan yang kita sebenarnya telah merasakannya bersama.

Beliau tentu menjadi bapak dari kehangatan keluarga kita bersama. Beliau adalah Sumarna, biasa dipanggil “Pak Ndut”. Dan, atas rasa hormat dan kasihku, kupanggil ia, “Daddy”.

***

Editor: EYS

Mathori Brilyan

Sarjana seni teater dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Bagikan
Diterbitkan oleh
Mathori Brilyan

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

5 bulan yang lalu