Rubrik: Coretan

Labirin Imajiner

Dan lagi, terus begini-begini saja.

Bayang-bayang akut pikiran yang masih melekat di kepala, mengalir pada tubuh layaknya sebuah labirin waktu: getir aku menyadarinya, ingin terbebas dari bayangannya. Labirin yang terus saja berjejalan pada titik bayang di antara kedua mataku, hyperreality. Aku masih saja termenung sendiri, merasa tak mampu berbuat. Kosong dan rendah gairah. Melankolia.

Sepintas ingin aku bisa mereda semua, perlahan. Konsep kesaradaran “mindfulness” ajaran Zen-Budhisme. Ia menyarankan pada kita mengambil waktu (jeda) dalam sehari untuk bermeditasi. Dalam ajaran Zen, meditasi sebenarnya bisa dalam bentuk apa  saja: membaca, menulis, memasak, melukis, dan sebagainya. Namun dalam ajaran Budhisme, meditasi dengan cara layaknya ritual formal: kita duduk, diam bersila, lalu mengatur nafas. Zen-Budhisme kemuďian berkembang di kawasan Asia-Timur. Semacam ada pertemuan antara Zen sebagai ajaran moral lokal Jepang, dengan berkembangnya ajaran Budha dari India ke kawasan Asia. 

Dari pengaturan napas inilah sebenarnya yang perlahan akan membuka alam bawah sadar kita, artinya kesadaran kita akan terbuka dan menemukan keseimbangannya. Kita dilatih untuk menemukan diri dari dalam, bukan dari luar. Sehingga akan tercipta pembentukan diri, bukan citra diri. Zen-Budhisme mengajarkan cara menjelajahi itu dengan berse-meditasi. Cara menempuhnya memang perlu waktu, melatih diri, dan tidak mudah. Kesadaran adalah kemewahan di abad ini, di tengah manusia yang dinilai kemewahannya dari apa yang ia beli dan barang apa yang ia punya, itulah abad modern kita.

Berfilsafat adalah aktifitas yang menyenangkan, meski seperti tak ada pekerjaan. Namun dalam filsafat menyediakan wadah untuk mereka yang dahaga pada pengetahuan dan mencintai laku bijak, sejak dalam berpikir. Berfilsafat adalah aktifitas merenung (kontemp-meditad). Kontemplasi adalah aktifitas berpikir, dan meditasi adalah aktifitas jiwa, rasa, dan raga. Keduanya perlu memiliki asupan yang baik, hingga terciptanya keseimbangan. (MA)

Mohammad Hagie

beragam berwarna, lestarilah tumbuhnya

Bagikan
Diterbitkan oleh
Mohammad Hagie

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

7 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu