Pagi itu, menjelang kabut turun dari rindang pohon kalimasada di pelataran pendapa pesantren. Dukaku yang masih basah ketika empat kucingku terbujur kaku secara bersamaan, entah karena virus atau karena Izroil sedang gabut.

Pak Kiai dengan langkah yang tegap nan syahdu menenteng kitab yang sudah terkelupas halaman sampulnya. Langkahnya satu demi satu menaiki anak tangga pendapa. Aku bergegas menyusul untuk membalik sandal yang dikenakan Pak Kiai.

Beberapa santri sudah melingkari meja untuk mengaji. Aku sembari membenarkan kancing bajuku menuju lingkaran itu.

Sebelum duduk, beliau menanyakan perihal kematian empat kucingku yang bisa dibilang misterius.

Aku hanya menjawab, “Nggih, Yai. Sampun kula kubur teng caket wit jati.(Iya, Pak Kiai. Sudah saya kubur di dekat pohon jati)

Dengan lembut Pak Kiai menjawab, “Ya wis ora papa. Sesuk sing ati-ati lé ngrumat ingon-ingon.” (Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali hati-hati merawat piaraan)

“Nggih, Yai,” jawabku dengan menunduk. 

Dengan doa-doa, Pak Kiai membuka pengajian kitab Qishashul Anbiya.

Ada dua ekor burung emprit yang sedang kasmaran, bersuka ria, menyanyikan lagu cinta.

Terbang ke sana-sini dengan sungguh gembira, bahagia, dan ceria.

Dua burung pipit itu singgah dan berdiri di kubah kerajaan Nabi Sulaiman AS.

Ketika itu, emprit jantan pun melepaskan rayuan mautnya.

Jantan: “Sayang, aku sangat mencintaimu.”

Betina: “Aku tidak percaya.”

Jantan: “Aku berkata jujur.” 

Betina: “Apa buktinya kalau kau mencintaiku.”

Jantan: “Kalau kau mau bukti, akan kutunjukkan padamu kalau aku benar-benar mencintaimu.”

Betina: “Apa buktinya?”

Jantan: “Akan kutelingkupkan kubah ini ke atas kepala Sulaiman demi kepercayaanmu bahwa aku mencintaimu.”

Ternyata Nabi Sulaiman AS yang paham akan bahasa burung mendengarnya. Kemudian beliau memanggil keduanya.

Nabi Sulaiman AS bertanya kepada emprit jantan, “Kenapa kau berkata begitu?”

Emprit jantan menjawab sambil tertunduk malu, “Maafkan saya, ya Rasul. Sangking besarnya rasa cinta saya, saya telanjur berkata demikian.”

Nabi Sulaiman AS hanya tersenyum kecil. Lalu beliau berkata, “Jika dia bertanya padamu lagi, ‘apa bukti cintamu?’ Katakan saja, ‘Allah buktinya kalau aku benar-benar mencintaimu.” (MA)

(Bersambung)

***

Editor: EYS