Rubrik: Fiksi

Menara Ingatan

Sudah hampir sepekan sejak berdirinya menara ingatan. Tak jauh dari halaman rumah Sun. Sun masih ingat betul setiap detilnya, bagaimana menara itu diresmikan.

Tuan Presiden datang ditemani tuan-tuan yang senyumnya lebih berkilau ketimbang nyala lampu puncak di menara ingatan malam ini. Pasukan-pasukan pengamanan presiden menenteng senjata dengan tuksedo hitam rapi. Rasanya, James Bond ada banyak. Semua pejabat-pejabat daerah, provinsi, hingga kabupaten hadir berderet di kursi-kursi terdepan. Tak lupa beberapa orang-orang yang dianggap penting.

Manusia demi manusia riuh berkerumun berebut melihat, dan Sun paham betul andaikata tanpa bapaknya, dia mungkin hanya dirundung gumpalan kasak-kusuk berdebu dan tenggelam dalam desakan.

“Naik di pundak. Cepat!” desis Bapaknya.

Tuas ditekan dan perlahan lampu dinaikkan. Diiringi kembang api yang turut merayakan sore menjadi malam. Malam yang kemudian menyembunyikan bapaknya, kalau bukan mati.

“Jika tidak pernah tertemukan, apa bedanya dengan mati?” pikir Sun.

Dan hingga kini Sun sulit membedakan tangis dengan tawa, sebab air mata keluar dari keduanya. Malam ini pun.

ɣ

“Sudah kubilang dari dulu, suruh suamimu ganti kerjaan, lihat anakmu sekarang, dia terancam yatim!” ucapan kakek Sun terlontar.

Kakek Sun kadang masih menyimpan rasa tak rela, sejak pernikahan ibunya, dan kini sesekali kian diungkit. Kakek Sun tidak membenci ayah Sun, cuma pekerjaannya saja.

Ibu Sun meneku, hingga akhirnya dia mengantar Sun tidur. Sun pun turut diam, dan kepada malam itulah dia berguru cara berpura-pura tidur. Didengarnya ibu bicara dengan telepon.

Nggak terhitung pengorbanan suamiku. Kenapa kalian nggak membantuku upayakan kemungkinan posisinya kini? Nggak sulit kan buat melacak lewat jaringan? Posisiku yang sekarang tentu sulit, sebab jadi pengacara tentu mustahil mengajukan tuntutan tanpa bukti ke pihak mereka. Aku udah upayakan banyak hal, tapi tolonglah kamu dan kawan-kawan sok aktivis itu jangan terus-terusan tambah mempersulit posisiku…” Di kalimat terakhir, suara ibunya menciut.

Dari situ, Sun membuka kelopak matanya, pelan-pelan, tipis-tipis, segaris mencuri pandang agar ibunya tak tahu pejam palsunya. Sontak sebuah pelajaran kedua dari malam itu. Untuk pertama kali Sun paham cara menahan tangis. Ibunya menahan tangis. Bukan dengan menyeka air mata, tetapi memandang ke jendela persis ke nyala lampu sorot di puncak menara ingatan. Sun menduga gelagat ibunya itu demi memindai air mata agar tak jadi jatuh. Sun pun mencoba meyakini kekuatan yang tersaru dalam cahaya menara ingatan.

Berbekal simpulan itu, Sun pun lelap menempuh mimpi. Entah mimpi apa detilnya, yang pasti saat terbangun, ia menuntut kakeknya.

“Buat apa kau minta denah kecamatan ini?” tanya kakeknya. Kakeknya demikian luruh jika menghadapi Sun, sebagaimana umumnya kisah kejengkelan mertua pada menantu yang selalu ditengahi lucunya cucu.

“Aku mau bikin denah ingatan,” kata Sun setengah berteriak.

“Denah ingatan? maksudmu apa, Nduk ayu?,” tanya kakek sambil mengusap lembut rambut cucunya.

Sembari menolak dibelai rambutnya, Sun berbalik arah dan lari ke pangkuan nenek. Ibu dari ibunya itu hanya bisa senyum, kemudian memandangi suaminya.

Kakek sudah lama mengenal betul bahasa tubuh istrinya, tetapi tatapannya kali ini adalah ironi. Matanya seperti ingin mementahkan segala tuduhannya kepada si menantu selama ini. Kakek tahu istrinya sangat baik dan sahaja bersikap. Pun padanya, penuh kasih sayang. Nyaris tak pernah mengeluh sepanjang hidup bersama. Tetapi tatapan siang itu membuatnya merasa bersalah. Gelagat cucu dan nenek tiba-tiba seperti satu suara. Segala pinta kudu dituruti.

Sebulan sudah berlalu. Hampir setiap hari ibu Sun pulang malam, tak jarang sampai demikian larut.

“Sayang, sudah makan malam?” ibunya mendekat.

“Aku tak lapar, Ma. Aku capek tiap hari cuma menunggu,” ucapnya. Kepalanya ditundukkan, lalu dijatuhkan di antara kedua tangannya yang bersedekap di atas meja.

Segelas teh tarik hangat disodorkan oleh ibu. Melihat putrinya tak bergeming, ibu mencoba memberi ruang. Tak sampai semenit, sang ibu kembali seperti malam itu, mendekat ke jendela dan melempar nanapnya ke arah cahaya di puncak menara. Agaknya, kerlip dan pendarnya yang terkadang seperti kejora itu mengisyaratkan harapan. Persis di relung malam kali ini, tiba-tiba nyala lampu menjadi merah.

“Suuun… Bangun, sayang. Lihatlah kemari.”

Sun kesal, namun kekesalan seorang anak manis adalah sebuah momen menunggu kejutan.

Panggilan ibunya membuatnya penasaran. Segera Sun menggerakkan tubuhnya mendekat jendela.

Dengan sedikit enggan, Sun mencoba perlahan melemparkan pandangnya ke cahaya merah yang baru pertama kali. Nanap pula. Tanpa komando, Sun berlari keluar. Di dekat teras neneknya merapal doa-doa pujian.

“Kakek dimana, Nek?”.

“Ada apa, Sun? Kenapa kau tak tidur?” tanya neneknya bingung.

“Kakekmu pasti ke menara. Pasti kesana. Sejak pintamu, Nduk, kakek sering mencoba mendekat ke sana,” jelas Nenek.

“Apa maksud Ibu?” timpal ibunya.

Dan ketahuilah, sejak saat itu, kakek pun tidak pernah kembali, bersamaan dengan nyala merah menara malam itu. Perangkat desa tak bisa banyak membantu. Polisi pun hanya sibuk mencatat laporan. Dan menara ingatan diam dalam angkuhnya.

Bergulirlah waktu. Hingga hampir dua dasawarsa, rumah itu tanpa pria. Puan, puan, dan puan.

ɣɣ

Mommy kujemput sekarang, yah?” suara puan yang tak lagi remaja itu menembus lubang-lubang kecil di sudut layar gawai. Kata orang, Sun sudah gadis.

“Baiklah, Sayang. Bentar lagi Ibu selesai. Ada perlu apa kok kamu buru-buru?”

Mommy lupa, ya? Kita kan harus ziarah ke makam nenek,” Sun tampak bersemangat.

“Ya ampun, maafkan aku, Nduk… Baiklah. Jemput Ibu sekarang.”

Percakapan daring pun usai.

Sampailah gadis yang berperawakan lebih tinggi dari puan yang dituntunnya itu persis di depan pemakaman kampung, yang apabila pucuk menara ingatan adalah mata, langkah kedua puan itu masih dalam pantauan. Harum bebunga ditaburkan, doa lirih dipanjatkan. Tak lama kemudian ibunya mendesis.

Nek, cucumu sekarang sudah besar, pintar, cantik pula. Tak lama lagi dia akan meninggalkan kampung untuk bersekolah lagi di negeri orang.”

Ibu Sun diam sesaat.

“Semoga Nenek di alam sana mendapat keberkahan. Begitu pun cucumu ini di alam ini,” sambung ibu. Sun hanya diam saja.

Dua puan itu kembali membaca doa bersama. Tak jauh beda dengan yang dahulu dirapalkan sang ahli kubur saat di teras rumah.

Maka benarlah. Tak butuh waktu lama dari ziarah yang laksana pamitan itu, Sun melesat terbang ke negeri orang.

Kecergasan Sun terus berlanjut dan terbukti hingga beberapa tahun kemudian, di kota asing ini, aku bertemu Sun.

“Aku sebentar lagi wisuda, Mommy,” katanya.

Seorang cantik, suaranya pasti mengandung manja. Buatku, arti hadir dan auranya seperti menghangatkan salju akhir musim di negeri ini. Negeri dan segala kampusnya yang, peduli setan di sudut mana maupun berapa peringkatnya, jadi mimpi utama bagi pelajar-pelajar di kampus Sun dahulu. Pemandangannya hari ini memang demikian menawan.

“Haha… Ah, bukan, Mom, ngga usah khawatir. Jangan disamakan sama wisuda yang dulu. Mommy nggak ada kewajiban buat repot-repot kesini. Cukup doanya saja,” wajahnya sedikit khawatir.

Persis disitu, wajahnya akustik. Aku menemu merah jambon tersari di kulit pipinya, sesenti di atas lesung pipit. Kangen dengan indahnya. Sebuah judul buat lukisan hidup mimiknya. Di menit itu kulihat salju di tepi-tepi pagar cafe seberang menjadi keunguan.

Sun sungguh polos kalau bicara tentang rindu. Tetapi mendadak dia terlihat sedih.

“Iya, Ma. Aku selalu berdoa buat papa, juga kakek. Aku niatkan sekolahku padanya. Aku udah nemu buktinya, Ma. Percayalah, Ma.”

“Sudah dulu ya, Mama. Di situ pasti tengah malam. Istirahatlah, Mommy-ku sayang. Besok bisa kutelpon lagi.”

Selang satu hembusan asap rokokku, Sun menutup telepon.

Sun melirik padaku. Seakan tak terjadi apa-apa. Aku tahu ada ombak perasaan yang berkecamuk di lautan sanubarinya. Namun, toh senyumnya bak tanjung pemecah ombak. Lebih menggetarkan dari moodbooster manapun yang pernah kau kenal. Aku mendadak lupa dengan syak wasangka yang macam-macam.

Obrolan lain kembali meledak di restoran cepat saji malam itu. Sebelum akhirnya aku menyudahi, kulihat Sun memandangi salju yang kecoklatan di trotoar.

Ada salju keunguan, ada salju kecoklatan. Dan engkau, Sun, satu-satunya saljuku yang kemerahan. Entah aku yang buta warna atau kau yang selalu tak sadar. Sebab seorang puan cantik dan pintar terperi dari ketidaksadarannya. Biarlah kita yang menyadari. Bukan begitu pembaca?

ɣɣɣ

Di hadapan majelis sidang internasional yang nyaris jadi kegegeran bagi seantero negeri kami, kasus tentang hilangnya papa dan kekeknya dahulu mulai terkuak, persis di kota hukum yang masyhur di negeri ini. Tak kurang tujuh hakim dengan berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, praktisi hukum, hingga yang mengaku aktivis. Tentu tak perlu dipertanyakan apakah Sun terlibat di dalamnya.

Aku persis di belakang Sun. Sun berdiri tegak berbusana cemerlang. Hampir setiap ada waktu, ia menyempatkan menyapa dan bicara, berbisik serta berdiskusi sesaat dengan para saksi yang banyak di antaranya telah dia kenal.

Sayang sekali, ibunya tidak didatangkan. Padahal, menurut Sun, ibunya adalah saksi kunci. Ini sudah usulan sidang kali kedua sejak tahun lalu. Tahun di mana Sun tak juga pulang ke rumah.

Fotonya berpakaian upacara kampus di negeri yang menyimpan segala denah ingatan itu kini terpampang di apartemen milikku, yang kukira Sun merasa demikian. Pasalnya, dia meninggalkan banyak jejak disana. Aku bahagia. Namun, kini, entah mengapa aku hanya melamun saja di tengah pembacaan dakwaan. Terutama saat Sun menjelaskan panjang lebar. Aku menemu yang berbeda. Kecantikan yang lainkah? Atau malah sesuatu yang memudar?

Ah, aku sudah lupa. Aku hanya ingat wajahnya sedikit pucat. Sepucat langit di musim itu.

“Kamu dimana? Apa benar nggak mau ikut aku pulang?” tanyaku di telepon.

“Hmm… sudahlah. Aku ingin disini dulu. Ada beberapa hal yang membuatku penasaran dengan orang-orang di bagian penyeleksi denah ingatan tentang kasus itu. Beberapa denah ingatan kian rancu dan orang-orang pendiri menara ingatan sudah ikut campur. Kau tahu lah, mereka sudah nggak mungkin terbendung. Aku kudu tuntaskan ini dulu,” jelas Sun panjang dan bersemangat.

“Apa kamu nggak ingin menyapa ibumu?” tanyaku menagih.

“Sudahlah. Nggak papa. Aku tahu Mommy paham. Aku tahu bahwa yang kulakukan ini jelas akan membuat Mommy senang. Toh, aku rajin meneleponnya.”

Terdiam sesaat, aku pun mencoba merayu, “Tapi, Sun…”

Belum sempat aku berucap kalimat, Sun menimpali, “Buka brankas lemari kita. Aku menyimpan beberapa potret yang kutemukan. Bawalah pulang, berikan padanya. Nanti kukasih alamatnya. Kau jelas harus perkenalkan diri padanya. Dia pasti senang. Mama orang yg mudah ramah dengan orang asing sekalipun. Apalagi posisimu. Biarkan aku layaknya eksil disini. Pokoknya kalo sampai rumahku, berkabar saja.”

Obrolan selanjutnya menuntunku pasif. Dia pun meminta ijin menutup telepon setelah kudengar suara gagu lelaki. Dari bahasanya, jelas mereka sedang sibuk membahas suatu hal.

Negeri yang tetap asing meski kucoba berkali-kali kuakrabi ini pun tak kalah sibuk. Konon, sedang sibuk membuat menara ingatan lain tentang hubungannya dengan menara ingatan di negeri kami. Menara ingatan yang sedang direncanakan itu akan mempekerjakan tukang-tukang dari negeri kami yang telah dikursus di negeri ini. Mereka diberi ijazah dan cap stempel, layak menjadi kaki tangan menara ingatan. Bahkan, kalau perlu, membangun menara-menara ingatan lainnya yang lebih up to date dan scientific. Karena, konon menara ingatan sudah terbilang konvensional dan mudah dipahami rahasianya. Rahasia yang juga diidap menara monumental yang katanya tak jauh dari rumah Sun.

Rumahmu, Sun! Aku berdebar, Sun. Sungguh tak karuan. Tak munafik, dalam niat pulangku ini, aku toh tertular penasaran!

Sudah hampir sebulan sejak itu. Aku memaksakan diri berkunjung ke kota kecil yang teralamatkan Sun, persis di timur pulau ini. Kota demi kota aku lalui. Secepat sawah dari kaca kereta yang seakan menonton komedi putar semesta. Tibalah aku di stasiun terakhir warisan negeri pengangkut denah ingatan. Memesan ojek online di layar gawaiku. Menembus temaram malam, mencari jalan ke rumah Sun.

Aku tiba di daerah dusun yang terlacak google map. Namanya, nama pohon. Aku ingat keterangan Sun bahwa sebelum menara dibangun, pohon yang jadi nama desa itu adalah pohon yang menjadi penanda masa panen maupun tanam. Namun, terangnya kini sudah tak ada. Dan tentu yang ada adalah menara itu.

Tak lama baru kusadari ada nyala kerlip seumpama kejora di langit yang menampakkan pucuk sebuah menara. Motor berderu pelan-pelan merobek sepi melewati jalan berlubang dan becek. Akhirnya kutemukan rumah terakhir di desa itu. Tak jauh dari semacam jurang yang tak terlihat, disembunyikan gelap, yang memisahkan rumah itu dengan menara. Ada jalan beraspal yang sedikit tak terawat, begitu keterangan Sun padaku. Aku pun meyakinkan diri, mendekat rumah dengan jendela terbuka itu.

Seorang puan sedang memandangi nyala terang di Menara Ingatan. Aku dan si driver pun turut larut pada nyalanya yang terasa berbeda ketika dilihat dari rumah Sun.

“Siapa?” suaranya memecah takjubku pada nyala menara. Dia menoleh padaku.

Segera perpisahan dengan tukang ojek online. Tak lama, obrolan mengalir di antara aku dan wanita itu. Jelas bukan wanita muda. Aku mengerti sepuhnya sejak dari cerita Sun. Tetapi, tatapannya menyangsikan usia enam dasawarsa.

Dalam obrolan hangat kami, ia menjelaskan, “Yang memberi nama bukan ayahnya, tapi aku. Sun itu boleh saja diartikan matahari. Tetapi Sun buatku lebih dari itu. Sun itu Ingsun. Sun itu keakuan yang utuh dan teguh. Bukan Sun yang kemingsun, keakuan yang angkuh. Sun kudu teguh membalas omong kosong mereka.”

Aku diam saja setengah kikuk. Ia pun melanjutkan, dan ini aku tak akan lupa.

“Sekarang ini adalah titik balik. Dan masa mendatang segalanya dimulai. Menara ingatan akan ada di mana-mana. Kemudian, petaka akan dimulai di dalam bilik-bilik ingatan.”

Kalimatnya seperti dilolohkan ke isi kepalaku. Persis di situ, kerling matanya mengajakku turut melempar pandangan ke jendela terbuka. Kusadari betul nyala di menara ingatan jadi merah kesumba.

“Dan jika harinya tiba, akan keluar asap dari tiap-tiap menara. Semua yang mencium aromanya akan sesak napas pun batinnya!”

Sejak saat itu hingga cerita ini selesai kutulis dan kukirim padamu, aku bersumpah akan meminang Sun secepatnya. Jangan sampai malaikat lebih cepat!

***

Ilustrasi: lukisan Rahmad Afandi, “Hewan yang Menyerupai Manusia” (AoC, 80 cm x 80 cm, 2019).

Editor: EYS

Adhi Pandoyo

masih demen menabung ceritera

Bagikan
Diterbitkan oleh
Adhi Pandoyo

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

5 bulan yang lalu