Rubrik: Seni

Mendengar Pesan dari Pasir Berbisik

Saya telah menonton film Pasir Berbisik beberapa kali dalam rentang waktu yang cukup jauh. Rasa-rasanya, film ini tetap mempunyai roh dan daya pikat yang tidak pernah berkurang.

Pada kesempatan kali ini, saya menyampaikan apresiasi dan salam hormat kepada film tersebut. Terlalu berlebihan? Tidak. Sebelum saya menulis, tidak ada niat untuk mencari data informasi mengenai film ini karena memang saya tidak bermaksud untuk membedah dengan gaya literasi kajian atau kritik film.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan, yaitu mengenai karakter tokoh dan alur. Keduanya adalah cara film menyampaikan sebuah cerita.

Secara keseluruhan, setiap tokoh memiliki karakter yang kuat. Relasi antar tokoh terhubung melalui dramatik dari alur yang dihadirkan. Karakter yang kuat dari masing-masing tokoh semakin memperkuat kompleksitas cerita, alur, dan konflik tersembunyi yang bersemayam pada masing-masing manusia (tokoh) dalam film.

Ini salah satu yang menjadi daya pikat dari film Pasir Berbisik. Masing-masing tokoh mempunyai peranan penting di dalam cerita. Kehadiran tiap-tiap tokoh secara bertahap dari menit ke menit memiliki daya kejut sekaligus memunculkan pertanyaan: apa yang akan terjadi setelah ini?

Kita bisa melihat bahwa beberapa aktor yang terlibat memiliki kualitas yang mumpuni. Mereka adalah Christine Hakim, Dian Sastrowardoyo, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Karlina Inawati, Dik Doank, dan beberapa aktor lainnya.

Kita dapat merasakan ada sebuah karakter manusia yang dibangun. Juga terdapat kerja penyutradaraan yang mampu menghidupkan karakter sekaligus alur cerita yang dramatis dan manis.

Film ini tidak cerewet. Alur naskah yang menjadi cerita memang tidak kehilangan nilai dan fungsinya sebagai alur. Tanpa banyak bicara, tanpa terlalu bertingkah, alur tetap berjalan pelan, sopan, namun dari menit ke menit penonton bisa merasakan getir psikisnya.

Tokoh utama dalam film ini adalah seorang anak perempuan bernama Daya, yang diperankan oleh Dian Sastro, dan Ibu, yang diperankan oleh Christine Hakim. Selintas saya dengar bahwa film ini menjadi awal karir Dian Sastro di dunia seni peran. Dian Sastro membawakan tokoh Daya dengan total. Saya meyakini ia telah menjalani proses observasi dan pendalaman materi ruang yang serius. Tidak hanya membayangkan kehidupan di padang pasir, namun Dian Sastro benar-benar menjadi Daya, anak perempuan gurun. Pada akhirnya, kita dapat merasakan “pasir berbisik” yang bisikannya masuk ke daun telinga Daya.

Melihat Christine Hakim, kita menyaksikan bahwa seni peran yang dilakukannya tidak sekadar kepura-puraan sebuah acting. Christine Hakim selalu membuktikan bahwa ia dapat menemukan ruh yang hidup dari setiap karakternya. Ia telah menjadi ibu dari Daya, bukan sekadar aktris Christine Hakim dan Dian Sastro sedang beradu acting.

Sebuah Ide

Semua setting tempat dalam film ini berada di sebuah hamparan pasir. Pinggir pantai, rumah beralas pasir, jalanan panjang yang menyimpan ancaman badai pasir. Memang, semua manusia di sana hidup di atas pasir.

Kesan yang cukup unik, yang saya peroleh ketika menikmati film tersebut adalah: kita belajar dari pasir.

Bagaimana suara pasir yang berbisik?

Apa yang hendak disampaikan oleh pasir?

Kepada siapa pesan itu disampaikan?

Daya sebagai tokoh sentral beberapa kali terlihat mendengkur sembari meletakkan daun telinganya tepat di atas pasir. Apa yang ia dengar? Apakah sebuah pesan?

Saya merasakan ada kesan dan pesan yang ingin disampaikan. Pasir sebagai unsur alam yang menjadi landasan kehidupan keluarga Daya berperan langsung terhadap jalan hidupnya. Ketika Daya dan ibunya dipaksa meninggalkan rumah dan berjalan jauh menuju tempat yang dinamainya Pasir Putih, perjalanan itu melelahkan dan memunculkan banyak peristiwa. Salah satunya, ketika badai besar, Daya bertemu dengan seseorang yang memberinya sebuah topeng.

Laki-laki: “Ini bukan topeng biasa. Kau harus menggunakannya di belakang kepala.”

Daya: “Kalau Ibu? Ibu kan juga perlu topeng?”

Laki-laki: “Jangan khawatir. Ibumu tidak perlu topeng. Ibumu punya mata di belakang kepalanya.”

Perjalanan panjang Daya dan ibunya mencari sebuah rumah menjadi gambaran dari apa yang mestinya menjadi daya hidup, yaitu kesabaran dan kepasrahan. Seorang ibu memang memiliki kepekaan dan tanggung jawab dalam melindungi anaknya, sebagaimana Berlian, ibu dari Daya.

Pada sebuah pasir yang berbisik, kita mendengar lirihnya,

menyampaikan sebuah pesan kehidupan,

dari dalam, bisa jadi dari inti bumi.

Dan melalui butir-butir lembutnya,

pasir menyampaikan sebuah kabar

: manusia yang hidup diatasnya, harus ingat, kepada siapa ia menyandarkan hidupnya?

Mathori Brilyan

Sarjana seni teater dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

4 bulan yang lalu