Ramadhan segera tiba, dan kita masih dalam suasana pandemi Covid-19 yang selama satu tahun terakhir telah mengguncang struktur kebudayaan dunia. Tatanan masyarakat yang sebelumnya dipaksa berubah cepat oleh arus budaya modern dengan hentakan teknologi informasinya menciptakan disrupsi di setiap sendi kehidupan, tiba-tiba terhenti kolaps sedemikian rupa. Sehingga patut kita pertanyakan, apakah pengetahuan, sikap dan cara hidup kita selama ini akan mengantarkan kita kepada tujuan hidup kemanusiaan kita yang sejati?.

Pada moment yang demikian, agama yang sebenarnya memuat nilai dan energy untuk ikut serta mengurai segala persoalan dunia juga ikut tertatih-tatih mengikuti dinamika zaman yang melaju kencang ini.  Agama saat ini seakan terpisah dengan elan-vital kehidupan dan kebudayaan manusia. Sehingga  yang muncul adalah formalisme beragama yang mengarah kepada kesalehan personal, namun luput menjadi kesalehan social untuk mewarni tumbuh kembangnya kebudayaan.

Belum lagi terbelahnya pandangan dunia masyarakat yang kalau kita runut bermula sejak masa kolonial. Antara pandangan masyarakat yang berinduk kepada nilai-nilai tradisi, yakni masyarakat local yang menyebar disetiap jengkal pulau Indonesia, dengan pandangan dunia baru yang disodorkan belakangan di pusat-pusat produksi pengetahuan formal. Keduanya saling mengintrupsi, terpisah, bahkan saling bertolak belakang. Sehingga yang muncul adalah krisis identitas, jati diri dan kemanusiaan. Karena semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, bukan semakin ia dekat dan tahu masyarakat budaya yang telah membentuknya, justru semakin terpisah dan asing.

Sehingga ketika kita mau jujur, segala bentuk dan ukuran kemajuaan bangsa kita saat ini, tidak berbanding lurus dengan kedewasaan mental, kedaulatan diri, dan luhurnya budaya bangsa yang telah menyatakan kemerdekaanya sejak 76 tahun yang lalu ini. Kita sebagai bangsa masih menjadi pengimpor utama pengetahuan, konsumen produk-produk dan penonton atas menjamurnya kebudayaan luar.

Pada tahap inilah kita bisa merasakan budaya kita semakin dekaden dan kehilangan arah tujuan. Sikap kreatif dan kosmopolitan yang menjadi corak utama kebudayaan bangsa kita selama ratusan tahun telah terbentuk dan manifest menjadi tradisi, adat dan ekspresi kesenian terasa kehilangan rumus perkembangan dan perubahannya. Ia ada namun tak lagi berdenyut sebagai sumber nilai dan pandangan dunia masyarakat yang konon telah melahirkannya. Mungkin situasi tersebut yang diingatkan dalam sebuah tulisan “Inikah Akhir Zaman Budaya Kita?”sebagaimana termuat dalam bukunya “Islam Berkebudayaan”. Dengan terus membiarkannya hidup, namun tak lagi kita perhatikan. Terus apa yang bisa kita lakukan?.

Refleksi tulisan di atas tentunya bukan bermaksud untuk membuat panic apalagi putus asa atas apa yang telah terjadi. Namun marilah kita jadikan uraian dia atas sebagai cermin untuk memantulkan cahaya baik untuk diri kita sendiri, untuk senantiasa belajar dan berbenah diri. Dan pada moment Ngaji Posonan tahun ini, sebagai hari-hari baik dan suci,gelisah kebudayaan tersebut coba kita tengok dan uraikan pelan-pelan dalam satu nafas tema “ Islam Berkebudayaan, Jalan Menemukan Diri Secara Kosmopolitan”  dengan format acara ngaji, kajian dan belajar bersama.

Ngaji posonan merupakan agenda tahunan yang diadakan Pesantren Budaya Kaliopak selama bulan Romadhan dan tahun ini sudah berjalan yang ke-3. Usaha mengisi bulan suci dengan agenda-agenda produktif dan kreatif. Seperti kajian, belajar bersama dan mujahaddah, yang semuanya berorientasi kepada karya yang bisa dihasilkan selama proses Ngaji Posonan berlangsung. Untuk kebutuhan tersebut, maka diharapkan semua yang terlibat bisa secara intens mengikuti rangkaian ngaji yang berlangsung selama 17 hari.

Dengan tema besar “Islam Berkebudayaan Menemukan Diri Secara Kosmopolitan”, Ngaji Posonon 2021 diharapkan mampu menyodorkan aternatif jalan untuk menemukan diri sendiri, dalam laku kosmopolit di era yang serba sulit saat ini. Tema-tema yang disusun merupakan rangkaiaan isu yang diharapkan mampu menjadi satu pengetahuan utuh yang berakar kedalam jantung kebudayaan kita sendiri, sekaligus mampu menjulang tinggi namun tak mudah koyak diterpa angin perubahan.

Dari hal tersebut Ngaji Posonan tahun ini mengusung tema ISLAM BERKEBUDAYAAN: MENEMUKAN DIRI SECARA KOSMOPOLITAN

Yang akan di adakan pada Waktu & Tempat  : 16 April – 2 Mei 2021 di Pondok Kaliopak, jln Wonosari Km.11, Klenggotan, Srimulya, Piyungan, Bantul.

Untuk mengikuti progam ini sendiri ada beberapa persyaratan yang harus di penuhi diantaranya sebagai berikut;

  • Bersedia mengikuti seluruh jalannya proses Ngaji Posonan selama 17 hari.
  • Bersedia membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 350.000 dengan fasilitas:
    • Makan 2 kali Buka dan sahur
    • VCD Film Mahrajan Wali-Wali Jawa
    • Free Wifi dan asrama santri
    • E-Sertifikat
  • Menulis motivasi letter, seartsy dan seedgy apa hya livehackmu di Jogja
  • Mematuhi prokes COVID-19
  • Mengisi formulir di Linkly/ngajiposonan2021

Sementara untuk Kajianya kami sudah menyiapkan beberapa materi pada acara Ngaji Posonan tahun ini

  • Islam Berkebudayaan Sebagai Jalan Menemukan Diri
  • Sejarah Masuknya Islam di Nusantara: Teori Arab, India dan Cina (review buku “Cheng Ho” karya Tan Ta Sen)
  • Dinamika Pribumi Islam
  • Filsafat Islam Nusantara
  • Matinya Subjek dalam Modernitas
  • Struktur Kesadaran Manusia dalam Tafsir Ayat Cahaya (Ibn Sina, Al-Ghazali dan Ibn Arabi)
  • Novel “Hayy bin Yaqdzan” dan Hidupnya Subyek
  • Serat Brandal Lokajaya dan Suluk Linglung
  • Perjumpaan Islam Nusantara dan Budaya Cina
  • Pengalaman Islam Nusantara di Mata Barat
  • Komunitas Arab di Nusantara
  • Nalar Agama, Budaya dan Sains

Dimana tema diatas akan dibawakan oleh pemateri pilihan yang sudah kami pilih yaitu;

  • Kiai M. Jadul Maula
  •  Irfan Afifi
  • Nur Kholiq Ridwan
  • Inyak Ridwan Muzir
  • Muhamad Yasir Arafat
  • Argawi Kandito
  • Labibah Zain
  • Aftonul Afif
  • Holland Tylor
  • Kiai Nasirun
  • Madha Soentoro
  • Muhyiddin basroni