Rubrik: Coretan

Para Peziarah yang Aneh

Kala senja membinar disaat magrib menjelang, duduk di beranda dengan obrolan-obrolan yang terlontar jenaka, hingga kerut rona siluet panorama terlibas oleh malam. Magrib serasa begitu mengambang, lirih dan terabaikan. Orang-orang dibuat cemas oleh virus baru bernama covid-19. Ugm, Uny, Uin, Upn, dan berbagai kampus lainnya mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan seluruh aktifitas kelas dan kerumunan di kampus. Alternatifnya, kampus memberlakukan sistem kuliah daring. Suasana memang cukup genting.

Namun semuanya seolah dibuat keruh dan panik oleh media, khusunya online. Jika kita mau merenung sedikit saja, jika kita semua adalah kaum beragama, mengapa kita dibuat takut yang berujung panik oleh keadaan. Bukankah agama mengajarkan untuk bertahan akan ketidakpastian. Itu adalah jalan utama ketuhanan. Dengan begitu, Tuhan menguji kita untuk tetap tenang. Jalan takwa atau kehati-hatian adalah jalan benar, ia adalah jalan menenangkan, tidak takut yang berujung pada kepanikan. Namun naluri manusia tetap saja menjalar tak beraturan.  

Rona-rona siluet langit perlahan terbenam. Aku beranjak pergi ke pondok kaliopak. Pondok tempat aku melipat-lipat waktu jauh ke belakang, ziarah waktu pada leluhur, hingga hembusan nafas begitu terasa nyambung iramanaya. Sungguh, suatu hal yang tidak aku dapatkan dari peradaban baru abad ini, sebuah dunia yang berlari. Manusia dipacu oleh waktu, bertabrak-tabrakan, dan mengarah pada pusaran yang sama, ialah berhala-berhala baru abad modern yang mereka ciptakan sendiri.

Sesampainya di pondok, aku menuju dapur untuk menyiapakan makan kembulan ngaji dewaruci, tugas pokok dharmaku di pondok memang memasak. Ia sudah seperti meditasiku dalam bentuk lain. Meditasi yang memang semestinya meditasi, ialah laku olah rasa dan kendali raga. Ajaran filasfat timur mengajarkan banyak hal perihal ini, meditasi bisa dalam bentuk apapun, seperti ajaran zen-budhisme yang berkembang dalam dunia kepenulisan hingga hari ini.

Kali ini makan kembulan memakai piring masing, akibat dari virus covid-19 yang merebak, dan untuk kehati-hatian. Malam ini, menu makan adalah bihun, sayur hijau dan kuah sup. Ditambah perasan jeruk nipis, sambal dan kerupuk.

Aku menuju pendopo yang hening, malam menundukkan pundak dan kepala. Gelaran karpet dan tikar, tiang-tiang kayu yang dibalut kain kuning, dan foto raja-raja jawa Mataram Islam, berjejeran di tiang beranda pendopo limasan. bacaan wirid rothibul haddad sudah dilantunkan. Bacaan-bacaan ini adalah kalam-kalam baik yang kita upload, kembali pada Allah tuhan semesta alam.

Kalam-kalam langit dilantunkan sebagai medium untuk melarungkan kekotoran diri dan pikiran dihadapan bumi dan Ilahi. Pondok membiasakan hal itu dilaksanakan sebelum ngaji dewaruci dimulai. Semua imaji-pikiran dikembalikan pada ketak-terhinggaan semesta langit, sehingga tidak berakhir pada batas bumi argumentatif ketika ngaji. Suasana lirih bergetaran dibibir, bilik-bilik surau dan tanah yang disirami lafal yang mengheningkan jiwa dan pikiran.

Tema ngaji kali ini adalah “Riwayat Indrapura (catatan perjalanan ke pantai barat Sumatera)”,  dipantik oleh mas Raudal tanjung buana, ia sering melibatkan diri dalam dunia teater, disamping itu ia seorang sastrawan-budayawan dan peneliti sosial.

Mas Raudal melakukan perjalan untuk yang kesekiankalinya ke ujung selatan Sumatera Barat, terakhir pada oktober 2019 lalu. Ia mengemukakan bahwa Indrapura adalah nama indah yang jika kita telisik ada di mana-mana. Ada Siak Sri Indrapura di Riau, Indrapura Air Putih di Batubara, atau Indrapuri di Aceh. Pahang yang kita kenal sekarang dulu bernama Indrapura, termasuk ibukota Champa (Vietnam). Nama-nama tempat India kuno pun banyak memakai nama Indrapura. Artinya lebih kurang tempat bertahta raja Indra (raja tertinggi), demikian pernah ditulis budayawan prolifik Emran Djamal Datuak Mudo.

Dalam buku Rusli Amran juga disebutkan, ‘Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang (1981)’, Kesultanan Indrapura jadi pumpunan teks setebal 652 halaman tersebut. Gusti Asnan dalam Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007), juga membicarakan Indrapura sebagai pelabuhan penting penghasil lada hitam (merica) dan emas. Dalam buku yang lain disebutkan, Kerajaan Indrapura (2013), Gusti Asnan (sebagai editor) bersama Yulizal Yunus dan Muhapril Musri, juga mengkaji sistem pemerintahan Indrapura.

Tak kalah menarik untuk disimak, dalam sebuah roman Balai Pustaka, yaitu Hulu Balang Raja (cet.1, 1934) karya Nur Sutan Iskandar, mengambil lanskap Indrapura. Tokoh-tokoh utamanya juga terdiri dari bangsawan Indrapura; seperti Ali Akbar, Putri Ambun Sari, Muhammad Syah, Malafar Syah dan Raja Maulana. Tentu, masih banyak lagi Indrapura kita temukan dalam berbagai teks Nusantara, baik klasik maupun kontemporer. Demikian, papar mas Raudal.

Paparan-paparan yang dikemukakan begitu terasa sastrawi, terlebih  mas Raudal Tanjung memotret itu semua, dan menempatkan dirinya sebagai pejalan atau peziarah. Bukan tanpa alasan perjalanan itu dijelajahi, ia memiliki memori masa kecil yang tersimpan. Memori itu membayang dalam imajisitas perjalanan rantaunya ke negri sebrang. Di Yogyakarta, ketika dirasa ada jarak, justru memori itu muncul kembali. Jejak memori yang membentang luas, sedikit aneh dan menggetarkan, hingga getaran jarak itu mengantarkannya untuk bisa melihat dan sampai  pada jejak-langkah moyangnya.

Perjalanan pergi jauh ke rimba raya negri sebrang, memang menyisakan luka jarak ruang, namun mampu melipatkan waktu untuk melihat luka-ruang tersebut dengan jernih. Sorren Kiekergard, seorang filsuf eksistensialis berkebangsaan Denmark mengungkapkan perjalanan seperti itu sebagai ‘pergumulan individu dan kebatiniahan’.

Dunia tasawuf Islam dan teosofi mengenal kebatiniahan Individu tersebut sebagai Suwung, ialah suatu keadaan kosong. Kosong yang merindu akan isi. layaknya seorang musafir yang kehabisan bekal, dan kehausan digurun pasir fatamorgana pusat makripatnya. Seperti pengembaraan seekor elang, yang terus mengejar pusat matahari.

Yang tersisa tinggallah laku suluk, membiaskan dahaga akan air kehidupan yang akan melumatkan semua luka, dan memberikan kesegeran ketika meminumnya. Air kehidupan yang dikenal dalam kisah raja-raja yang mengerahkan seluruh pasukan, untuk menemukan mata airnya. Namun air itu hanya diperuntukkan bagi para pejalan, peziarah yang tengah kehausan dan kebingungan. Hingga sampailah ia di sungai yang berpasrah pada laut, terseok oleh derasnya rahasia lika-liku air yang meliuk, membentur batu, terjun bebas, hingga menenang sunyi di muara samudera biru.

Sultan Agung menuliskan pergumulan batiniah perjalanannya dalam nubuwat babad ‘Serat Nitik’. Syekh Maloyo atau Sunan Kalijaga menyuratkan perjalanan itu dalam ‘Suluk Linglung’. Dan lakon Dewaruci menyiratkannya dalam ‘suluk Dewaruci’. Suluk dan serat-serat tersebut adalah medium kita untuk bisa melihat pada diri sendiri. Ialah jalan dan jati diri kita, sebagai manusia Nusantara yang diperagakan dalam teknologi lakon berupa wayang. Kita bisa mengaksesnya melalui lakon suluk diri masing-masing, ialah suluk yang tidak berbatas pada pengetahuan saja, namun pengerahan kanti laku diri dengan totalitas.  

Begitupun dengan perjalanan Bujangga Manik, ia adalah seorang bangsawan yang hidup dimasa panceklik keruntuhan Dayeuh Pakuan Padjajaran, ia lebih memilih berkelana dan meninggalkan pusat kekuasaan. Kemudian ia melakukan perjalan jauh, berkelana ke rimba raya pulau Jawa-Selat Bali hingga dua kali. Di Mataram Islam Jawa, kita akan menemukan sosok imaji Bujangga manik dalam diri Ki Ageng Suryomentaram. Memilih jalan kelana bukanlah tanpa sebab, ia syarat dengan situasi sosial-politik yang menjalar-banal pada saat itu.

Perjalanan kelana tersebut adalah laku-asketis sebagai olah rasa untuk menemukan diri yang baru. Ialah perjalan menemukan jati diri yang beraroma karsa. Karsa yang sejatinya memunculkan bau wangi dengan sendirinya, juga memberi wangi pada diri yang lain. Dan itulah nama asketis yang diberikan pada leluhur manusia Pasundan, ialah Prabu Siliwangi. ‘Siliwangi’ artinya ‘saling wangi’, dan memberi wangi (Silih-Wangi). Dirinya mewangi dengan sendirinya, lalu dengan sendirinya pula ia memberi wangi pada sekitarnya.

Mohammad Hagie

beragam berwarna, lestarilah tumbuhnya

Bagikan
Diterbitkan oleh
Mohammad Hagie

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

7 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu