Rubrik: Seni

“Pesan Pandemi” Dina Triastuti

Sore itu, saya berkunjung ke rumah kontrakan Dina Triastuti, manajer Kalanari Theatre Movement. Di tengah obrolan kami yang ngalor ngidul, Dina mengatakan bahwa keesokan harinya ia akan pulang ke kampung halamannya di Mojokerto. Kemudian, terbesit keinginan dalam diri saya untuk bertanya terkait momen pandemi ini.

Terlebih yang menjadi menarik ialah pengalamannya pada dunia manajemen seni. Dina mempunyai pandangan yang cukup segar ketika memperbincangkan bagaimana sebuah produksi seni dijalankan. Pemikirannya menggugah mengenai masa depan kultur kesenian kita yang mestinya dapat mempunyai posisi dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Selamat sore, Mbak Dina. Hari ini kan kita dalam momen yang sama ya, pandemi. Tentu hal tersebut berpengaruh dengan aktivitas kita. Kalau Mbak Dina, apa yang dirasakan selama momen pandemi ini?

“Memang shock di awal ketika secara tiba-tiba harus berhenti. Beberapa kegiatan dan rencana ke depan harus ditunda dulu. Pada awal corona merebak itu, aku dua hari benar-benar gak bisa mikir. Namun, kemudian justru menjadi ruang kebersamaan yang lain ketika bertemu dengan beberapa teman lewat jaringan online, kemudian saling mengobrol terkait situasi saat ini. Agak berkurang sih ketika dengan beberapa teman membuat forum. Walaupun saat itu memang sama-sama bingung mau ke mana. Namun, paling nggak lebih melegakan ketika saling bisa mengobrol dan memberi semangat.”

Apakah ada pembelajaran Manajerial Seni dalam situasi ini?

“Hmm… aku menjadi lebih sadar saat ini kalau manajemen seni belum bisa mempersiapkan apa yang akan menjadi kebutuhan kita pada situasi seperti ini. Memang situasi ini kan di luar kendali manusia, ya. Namun, kenapa ini tidak dipersiapkan dari awal jika memang bisa disiapkan?”

“Nah, ini yang masih kendor dalam konteks manajemen seni. Dalam lembaga besar mungkin ada dana cadangan yang lumayan besar. Namun, untuk beberapa kelompok seni misalnya, mungkin ada, namun hanya cukup untuk, katakan, menjaga nafas seadanya, belum untuk kebutuhan hidup yang banyak.”

“Dalam perencanaan produksi, kita jarang memberikan slot untuk dana tak terduga. Manajemen kita manajemen yang temporer. Belum dipikirkan lima tahun ke depan, misalnya. Kalau dalam bentuk manajemen seni secara umum kan ada empat item, ya, perencanaan, pelaksanaan, controlling/monitoring, serta laporan/evaluasi. Nah, aku ingin menambahkan satu lagi yang aku kira itu juga tidak kalah penting, yaitu manajemen rasa.”

“Item ini merupakan hal yang intuitif dari beberapa orang yang berperan dalam produksi. Manajemen rasa ini sangat khas, yaitu merupakan bentuk kesadaran dan kepekaan orang-orang di dalamnya. Manajemen semestinya melangkah lebih maju dari produksi. Memiliki sebuah desain bagaimana keberlangsungan seniman dalam waktu ke depan.”

“Karena memang profesi sebagai seniman kan rada ambigu, ya. Seniman itu apa? Profesi, pekerjaan, hobi, tenaga ahli, pengajar, freelance, atau apa? Dari situ kan kita dapat rasakan, selama ini seniman belum mempunyai standarisasi mengenai pendapatan, honor, gaji, asuransi, dan sejenisnya, yang intinya mengenai bagaimana seniman mencukupi kebutuhannya.”

“Nah, kebutuhan seniman ini yang aku rasa masih kendor dalam sistem manajemen seni kita.”

Bagaimana bayangan ke depan ketika, katakan, Pandemi ini selesai?

“Menurutku ada dua hal. Yang pertama, kita akan menemukan “normal yang tidak normal”, normal baru. Kita akan menyikapi kehidupan ini dengan normal baru. Dengan membaca ulang. Dengan meredefinisi ulang. Kita akan menemukan normal yang baru dengan pembacaan atau perspektif baru. Atau, yang kedua, adalah kita memang menunggu sampai benar-benar ini selesai.”

***

Terkait “normal baru’ yang dikatakan Dina, sama dengan isi dari tulisan Dahlan Iskan yang berjudul “Hidup Baru” (DI’s Way, 20 April 2020). Dalam tulisannya, Dahlan Iskan mengatakan jika dalam sistem masyarakat kita memang membutuhkan sebuah kebijakan yang disebut dengan lockdown.

Dahlan Iskan menyampaikan dalam tulisannya,

“Mengapa perlu?”

“Karena tidak semua orang disiplin.”

“Kalau semua orang bisa disiplin tidak perlu lockdown?”

“Tidak perlu.”

“Boleh ke mana-mana?”

“Boleh.”

Dalam tulisannya tersebut, Dahlan Iskan mengatakan jika pemberlakuan lockdown merupakan sebuah cara bagaimana kita dapat membiasakan “hidup baru”. Hidup baru seperti apa yang dimaksudkan?

Dahlan Iskan meneruskan dalam tulisannya :

Serba boleh. Asal kita bisa memulai “hidup baru”.

Yakni kalau semua orang sudah bisa disiplin.

Nama hidup gaya baru itu disebut “disiplin”.

Termasuk disiplin jaga jarak.

Pada situasi seperti ini, hal yang penting merupakan pembelajaran di dalamnya. “Normal baru” yang disampaikan Dina serta “hidup baru” yang disampaikan Dahlan Iskan menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih memberlakukan disiplin pada diri kita masing-masing. Jika itu dapat terlaksana dengan baik, tanpa ada aturan dari pemerintah pun kita mempunyai kesadaran untuk lebih peduli pada kesehatan diri dan lingkungan. Harus dimulai dari diri sendiri. Dan, pelan-pelan mesti dilaksanakan secara serentak.

Kembali pada Dina Triastuti, saya memberikan pertanyaan mengenai refleksi yang terjadi pada dirinya dalam momen pandemi ini.

Bagaimana refleksi dari situasi pandemi ini?

“Aku jadi banyak reflektif, kontemplatif. Dari pengalaman melihat ke dalam diri ini aku jadi sadar yang sebenarnya dekat dengan kita ternyata sangat berjarak. Aku jadi mempertanyakan kembali bagaimana aku mengenali dan menyelami diri sendiri.”

“Kita yang selama ini mencari keramaian. Seakan kita tidak boleh kalah dengan laju percepatan kehidupan yang ramai ini. Dulu, ketika mau makan saja, kita punya banyak sekali pilihan tempat makan. Kita yang seakan harus pergi ke mall, nonton di bioskop, dan lain-lain. Padahal kalau kita sederhanakan, di rumah saja dengan lauk tempe, jadi. Nonton film atau dokumentasi pertunjukan di rumah juga tidak menjadi masalah.”

“Kemudian pada situasi ini, kita disuruh untuk melambat. Kita disuruh untuk tidak mengikuti keramaian yang sebelumnya menjadi rutinitas kita. Tuhan seperti mengingatkan kita untuk ‘hidup dengan sederhana dan lebih melihat ke dalam’.”

“Aku menjadi lebih sadar pentingnya pola hidup sehat dengan hidup sederhana. Dan, tidak terlalu sering keluar rumah. Aku lebih melihat ke dalam diri. Semakin kesini aku semakin sadar, menjadi bertanya kembali, apa sebenarnya hakekat hidup?”

“Suasana ini juga menggugah kesadaran lain pada diriku sendiri, yaitu untuk lebih akrab dengan rumah. Jadi lebih membuka kesadaran dalam setiap aktivitas yang dijalani seperti menanam, memasak, membaca buku, berjemur, menyirami tanaman, membersihkan perabot rumah dan aktivitas rumah lainnya.”

***

Ilustrasi : koleksi foto Kalanari Theatre Movement

Editor: EYS

Mathori Brilyan

Sarjana seni teater dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

6 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

6 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu