Rubrik: Seni

Senda Seni: Samuel Indratma Bicara dengan Jenazah Ayahnya

Bagi seorang anak laki-laki, kematian seorang ayah menimbulkan perasaan campur aduk yang luar biasa, antara kehilangan seorang pelindung, sahabat dekat sekaligus pesaing halus. Terlebih bagi sosok seperti Samuel Indratma– perupa kontemporer dan presiden mural Indonesia– yang kurang pandai menyembunyikan sifat keras kepalanya di balik nada bicaranya yang tak pernah keras dan tinggi.

Namun, meski keras kepala, Samuel adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Di saat ayahnya sakit keras, Samuel membezuk dan selalu memijat dengan bakat alami yang dimiliki, merayu ayahnya hingga mau berobat ke Jogja, dan selalu menjaga di rumah sakit bersama dengan ibunya. Pada suatu malam, ayahnya demam tinggi hingga batuk berdarah dan, setelah sekian lama dipangku oleh Samuel dan ibunya, ayahnya berpulang menghadap Tuhan.

Samuel pulang mengantar jenazah ayahnya dengan perasaan sedih dan murung, terutama membayangkan kehidupan ibunya setelah ditinggal oleh suaminya. Untuk mengurangi perasaan sedih ibunya, ia  berusaha tampil setegar mungkin. Bahkan sesampainya di rumah Samuel ikut mendandani jenazah ayahnya dengan pakaian yang paling pantas dan bagus. Pada saat itulah sebuah keanehan terjadi.  Ketika hendak memasukkan bagian lengan, tangan ayahnya begitu kaku sehingga jasnya sulit dikenakan oleh jenazah. Di tengah kebingunan itulah Samuel tiba-tiba melakukan langkah yang tak biasa: bicara dengan jenazah ayahnya.

“Pak, banyak sekali tamu. Jangan malu-maluin lah, kendorin tangannya,” kata Samuel, setengah berbisik.

Entah kenapa, seperti mendengar ucapan putranya, lengan ayahhnya tiba-tiba berubah menjadi lentur sehingga jasnya bisa dengan mudah dikenakan. Samuel pun merasa lega menyaksikan jenazah ayahnya telah tampil dengan gagah dan pantas dalam rangka menghadap Tuhan untuk selama-lamanya. Dan, di atas segalanya, hati Samuel diliputi perasaan haru, di samping bingung tentu saja, atas kerjasama yang dilakukan oleh ayahnya di saat-saat yang begitu “luar biasa”.

Faisal Kamandobat

Penyuka sastra, seni rupa dan penadah rahmat Tuhan...

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

5 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

5 bulan yang lalu