Rubrik: Seni

Seni Rupa Menghamba Sejarah

Seni rupa merupakan salah satu wujud ekspresi manusia dan menjadi produk budaya sebuah bangsa. Sejarah mencatat keberagaman karya-karya seni di berbagai wilayah di Indonesia memiliki ciri khusus, dan menjadi identitas tersendiri. Berbagai karya dengan teknik, bahan dan bentuk membuktikan kekuatan dan kecerdasan sumber daya manusia Indonesia. Pengenalan seni rupa dalam kehidupan masyarakat melalui benda-benda yang dibuat dan digunakan sehari-hari membawa alam bawah sadar kita untuk mengenal nilai-nilai keindahan yang dibutuhkan juga menjadi wujud kecintaan terhadap bangsa Indonesia.

Sejarah panjang seni rupa  Indonesia telah memberikan bukti bahwa keberagaman karya dari berbagai identitas suku dapat bersatu dan membangun peradaban Indonesia. Jika kita menengok ke masa Orde Lama, kesadaran seni terutama seni rupa mendapatkan tempat serius oleh negara. Selain faktor dari Presiden Sukarno yang merupakan pecinta, penikmat dan kolektor karya seni, kesadaran untuk mencari dan menggali identitas nasional tercipta di wilayah seni rupa.

Masa Orde Lama menjadi pijakan awal untuk mengenal persinggungan negara dan seni. Seni rupa saat itu melalui kelompok-kelompok kesenian dapat saling berkaitan dengan berbagai sektor ekonomi, pendidikan, bahkan politik. Seperti adanya upaya pencarian dengan berbagai sumber dan pedoman, seperti rakyat, konsep ketuhanan, hingga mengeksplorasi keindahan dalam seni itu sendiri.

Kelompok Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) menghidupi, mencari dan menyuasaikan tema kerakyatan yang bersumber dari kehidupan masyarakat kecil atau tertindas. Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) milik Nahdlatul Ulama yang memiliki serta mengembangkan nilai-nilai yang terdapat dalam keseluruhan kehidupan, untuk menyempurnakan rasa pengabdian kepada Allah SWT. Ada juga LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dengan semangat nasional dan kecintaan terhadap Indonesia, meski dalam konteks waktu itu memiliki dasar untuk menjadi gerakan penengah di antara arus utama. Hal-hal inilah yang perlu disadari, dan menjadi semangat untuk terus mengembangkan seni rupa di Indonesia sampai saat ini.

Hampir 75 tahun negara Indonesia merdeka, pastilah pengalaman, perjalanan dan pengembangan yang dilakukan institusi pendidikan, pelaku seni (seniman), hingga kelompok-kelompok seni sudah sangat banyak. Lalu, bagaimanakah itu semua dapat menjadi cerminan dan arah gerak untuk semakin mematangkan bahkan mengontrol ke dalam (seni rupa dan berbagai wilayah yang meliputinya) dan keluar (menjadi bagaian dari masyarakat secara luas tanpa ada sekat-sekat). Sejarah seni rupa telah memberikan pengalaman peristiwa hingga konflik kebudayaan yang berkaitan dengan berbagai faktor pembangunan negara. Namun, berkaitan dengan sumber-sumber literasi berupa buku sebagai pedoman awal mengenal masih sangat sedikit, di sisi lain juga kurangnya sumber penelitian, kajian dalam buku-buku seni rupa yang ditulis oleh orang Indonesia, setidaknya dari sudut pandang Indonesia.

Pengenalan mendalam tentang berbagai pengetahuan di dalam seni rupa perlu dilihat dan dikaji kembali. Berbagai arsip, data hingga bukti sejarah berupa karya lukis, tulisan, bahkan kantong-kantong seni yang masih ada dari masa Orde Lama, merupakan sumber utama. Pengenalan, pengungkapan dan penyebaran tentang sejarah seni rupa Indonesia dapat menjadi bahan kembali untuk memahami jalan dan arah seni rupa Indonesia, seperti pola pendidikan seni rupa Indonesia, kritik seni rupa sebagai kontrol seniman dan jembatan bagi masyarakat, pola pengarsipan, perawatan, dan restorasi karya seni, juga tempat dan kantong-kantong seni, galeri, hingga museum. Beberapa hal tersebut merupakan kajian sejarah seni rupa yang perlu dipelajari, sehingga muncul kesadaran dan rasa memiliki terhadap kekayaan seni di Indonesia juga mendekatkan seni dan masyarakat. (MA)

***

Foto : libreshot.com

Athif Thitah Amithuhu

Pemuda harapan orang tua yang minat di sejarah, sastra, dan seni rupa. Pernah menyelesaikan belajar Ilmu Sejarah di UNY dan pernah bergiat di Buletin Sanskerta.

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 minggu yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

4 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

4 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

4 bulan yang lalu