Rubrik: Seni

Sobat Ambyar dan Jalinan Solidaritas di Masa Pandemi

“Sobat Ambyar“, begitulah sebutan fans berat Pakdhé Didi Kempot yang beberapa hari lalu melakukan konser amal. Secara mengejutkan, konser berdurasi tiga jam tersebut mendulang uang sumbangan hampir lima miliar rupiah. Nilai uang yang tidak sedikit tentunya untuk sebuah konser amal. Apalagi konser ini diinisiasi langsung oleh seniman musik tradisional yang dalam setahun ini mendapat panggungnya kembali.

Menggandeng salah satu televisi nasional, program konser amal yang secara langsung disiarkan dari rumah Didi Kempot di Solo ini mampu menyedot perhatian ribuan penonton “sobat ambyar” yang bisa dipastikan multi-kelas sosial ini. Mulai dari kelas sosial menengah bawah sampai kelas atas. Hal ini bisa dilihat ketika di sela-sela acara, Presiden Jokowi, melalui video call, mengucapkan terima kasih kepada sang empunya lagu-lagu ambyar ini atas inisiatifnya untuk menjalin solidaritas atas wabah virus corona yang tengah melanda negara ini.

Apa yang dilakukan oleh penyanyi bernama asli Didi Prasetyo ini merupakan bentuk riil peran seniman atas wabah yang terjadi di hampir seluruh dunia ini. Bisa disadari juga bahwa Didi Kempot telah berhasil menyebarkan sindrom ambyar-isme dari sudut-sudut kota hingga masuk ke gedung-gedung bertingkat. Sebuah kesuksesan yang menjadikan sejumlah kelompok-kelompok sosial merasa memiliki ikatan sepenanggungan dalam menghadapi wabah virus corona.

Sampai-sampai, satu tarikan lagu “Pamer Bojo” bisa mendapat perhatian begitu banyak orang. Tidak hanya untuk meringankan derita yang melanda dengan berjoget bersama, namun juga sebagai agenda yang mampu mendulang solidaritas dengan berdonasi.

Di tengah masa pandemi ini memang banyak seniman dan musisi di dalam maupun luar negeri menyelenggarakan konser amal seperti yang dilakukan oleh Didi Kempot. Menariknya, biasanya konser-konser solidaritas seperti ini menampilkan lagu-lagu minor dengan kesedihan dan pesan-pesan sosial yang cukup kuat. Tapi, nampaknya apa yang dilakukan oleh Didi Kempot berbeda. Dengan tetap menyanyikan lagu-lagunya yang mengisyaratkan patah hati dan kerinduan pada seseorang, ia tetap bisa memperoleh apresiasi dari banyak orang. Pada kesempatan itu, ia juga sempat membawakan lagu barunya yang sarat pesan di konteks situasi seperti sekarang ini, yaitu “Ojo Mulih”.

Musik sebagai Jalan Solidaritas Sosial

Fenomena luar biasa dari sobat ambyar ini, disadari atau tidak, telah menunjukkan pada kita semua bahwa bahasa seni — dalam hal ini musik — bisa menjadi bagian yang subtil dari manusia. Hadirnya para seniman yang dengan sungguh-sungguh mendarmakan dirinya untuk mengungkapkan realitas secara estetis dengan caranya sendiri menjadikan karyanya mampu meresap ke dalam hati para penikmatnya.

Hingga akhirnya, karya yang mampu diresapi oleh banyak orang ini tidak berhenti sekadar menjadi bahasa subjek pekarya, tetapi sudah menjadi bahasa publik, bahkan bahasa lain dari sejarah itu sendiri. Karena, bagaimana pun, karya yang menyejarah pada akhirnya mampu menjadi preseden baru bagi para kreator selanjutnya untuk menemukan titik pijak estetis dalam sebuah karya seni.

Tentu kita masih mengingat gelora musik dari Iwan Fals dan grupnya, Kantatatakwa — bersama Sawung Jabo dan Setiawan Jodi — saat menggaungkan lagu “Bongkar” di tahun ’90-an. Saat itu, lagu tersebut bisa menjadi gambaran dari situasi yang terjadi di tengah kungkungan rezim Orde Baru.

Kita juga belum lupa lagu ciptaan Ebiet G Ade berjudul “Untuk Kita Renungkan” yang begitu pilu saat kita dengarkan pada medio tahun 2004-2006, saat bencana tsunami Aceh dan gempa Yogya menerpa. Lagu ini, secara tidak sadar, juga mampu menggerakkan banyak orang untuk saling bergotong royong membantu sesama yang sedang ditimpa musibah.

Uniknya, saat ini, lagu-lagu ambyar yang mengisahkan patah hati dan kerinduan dengan iringan musik koplo dari Didi Kempot ternyata mampu menggerakkan publik untuk saling bergandeng tangan sambil berjoget.

Hal ini juga bisa dilihat sebagai bentuk penyikapan khas masyarakat kita tatkala menghadapi persoalan yang cukup berat. Orang-orang tidak lantas terpuruk dan kehilangan kebahagiaan, justru masih terus tegar dan memunculkan harapan-harapan di tengah berbagai keruwetan hidup dengan cara jejogetan sembari sejenak mengesampingkan persoalan yang ada.

Kesimpulannya, apa yang dilakukan oleh Didi Kempot bisa menjadi catatan penting di tengah wabah pandemi seperti sekarang ini. Bagaimana sebenarnya, setiap orang, dengan resource yang dimilikinya dan segenap kreativitasnya, bisa ikut berkontribusi untuk meringankan beban bencana sosial yang sedang melanda kita semua.

***

Foto: beritasatu.com

Editor: EYS

Doelrohim

Santri PP kaliopak, nyambi kuliah di jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Suka. Pecinta buku, kopi dan deknen.

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

6 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

6 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu