Rubrik: Ngaji

Sumarah

Saya tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi hari-hari ini. Namun seketika saya sadar dan terbangun dari acuhnya saya atas realitas yang terjadi ketika mengikuti pengajian kecil di pendopo Pesantren Kaliopak. Saat itu Pak Kiai mengatakan bahwa hari ini manusia sedang dicoba dengan sebuah virus yang tidak tampak, namun semua orang, hampir di seluruh dunia, menyepakati bahwa ini ancaman bagi umat manusia.

Dari hal tersebut Pak Kiai memberi ulasan, bahwa kita sedang diuji untuk kembali mempercayai sesuatu yang tak tampak. Di mana hari-hari kita sebelumnya selalu menuhankan suatu yang tampak (materi), sekarang manusia diberi  isyarat untuk kembali bahwa manusia sejatinya tidak bisa mengenyampingkan yang non materi.

Pengantar itu sempat membuat saya tertegun dalam, kemudian tak lama berselang coba saya endapkan, ternyata memang gonjang-ganjing virus COVID-19 ini sebenarnya pratanda alam untuk kita kembali, lebih jauh untuk menyakini bahwa suatu yang tidak tampak pada akhirnya adalah penentu atas apa yang terjadi hari ini. Kesibukan kita untuk selalu mengejar materi, memposisikan segalanya dari apa yang tampak dan terlihat, sehingga sedikit banyak membuat kita lupa bahwa sebenarnya  ada daya besar yang tidak bisa kita mengerti yang menggerakkan kita.

Ketidaktampakan atau ke-fana-an sebenarnya perihal eksistensi yang ada tapi tidak bisa kita lihat dengan panca indra. Keberadanya tidak mewujud benda tapi mampu mempengaruhi segala potensi yang dimiliki manusia. Begitulah kira-kira saya mencoba menerka kerangka berpikir atas yang “tak ada” tapi “nyata”. Begitu juga agama mengajari kita tentang keberadaan eksistensi Tuhan, untuk selalu menyakini tanpa butuh penjelasan kenapa Tuhan ada dan disuruh mengakui keberadaan-Nya.

Dari sana saya jadi ingat ajaran Eyang Sostrokartono mengenai sumarah atau penyerahan diri yang menurutnya berpangkal dari satu kesadaran akan adanya suatu pribadi kepada siapa kita akan menyerahkan diri. Kesadaran kita sebagai kawulo membawakan kita pada suatu kepercayaan, bahwa di dalam semesta alam ini ada daya gaib. Suatu pribadi yang menjadi sebab dari adanya kahanan ini semua. Inilah yang disebut Sostrokartono sebagai kepercayaan, di mana percaya itu tidak perlu tahu, tidak perlu melihat dan tidak perlu mengerti.

Bisa jadi untuk menerima kepercayaan kita tidak memerlukan lagi pembuktian, sekaligus untuk mengubah kepercayaan kita tidak memerlukan sebab. Hal berbeda jika kita mengatakan percaya tapi masih meminta pembuktian berarti itu bukan percaya. Jadi bagi Sostrokartono menerima kepercayaan akan adanya suatu pribadi yang menjadi sebab adanya semesta alam ini adalah menerima adanya Kang Murbeng Dumadi atau Senggawe Urib (yang menciptakan hidup). Itu semua adalah rasa percaya akan adanya sesuatu. Rasa percaya akan adanya yang menciptakan adalah pengakuan dalam ketentuan hati, bahwa yang menciptakan hidup itu ada.

Jika kita ingin menengok ke belakang, sebagai hukum alam setiap peristiwa mestinya tidak berjalan sendirian. Satu kejadian selalu mempunyai korelasinya dengan peristiwa yang lain. Dalam pengalaman laku orang Jawa hal ini disebut sasmito, semua peristiwa mengandung tanda-tanda, dan biasanya hanya orang-orang yang memiliki kualitas ruhani yang tinggi, tentunya dengan rahmatnya Gusti, mampu menangkap makna di balik peristiwa yang sedang terjadi.

Pembacaan awal saat saya mendapat pengertian di atas terkait realitas yang terjadi hari ini, mungkin bagian dari sasmito itu sendiri. Di mana, saya ulang kembali, peristiwa merebaknya virus ini bagian dari pengiling Gusti untuk kita semua kembali mempercayai segala kuasa Tuhan yang tampak maupun tak tampak.

Tapi apakah kita sudah benar-benar percaya bahwa ini atas kehendak Gusti, ketika kita masih sering melimpahkan kepada orang lain, kepada pemerintah, yang mestinya sudah berusaha bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing. Sejauh mana kita percaya, ketika berbagai persoalan harus diukur dengan rasio untung-rugi, dalam hitungan kalkulatif. Saya tidak akan menjawabnya. Karena ini juga pertanyaan yang saya hujamkan dalam diri saya pribadi. (MA)

Doelrohim

Santri PP kaliopak, nyambi kuliah di jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Suka. Pecinta buku, kopi dan deknen.

Bagikan
Diterbitkan oleh
Doelrohim

Terbaru

Etnografi yang Memihak: Belajar dari Bisri Effendy, Seorang Ulama Kebudayaan

Esai Syamsurijal – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, dimuat pertama kali di situs blamakassar.co.id tanggal…

3 bulan yang lalu

Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin?

Judul: Kesurupan: Benarkah Kemasukan Jin? Saya terperangah membaca ulasan menarik tentang kesurupan. Buku itu disusun…

7 bulan yang lalu

Chat Tono dan Tini tentang Guna Sastra

[13/5 14.09] Tini: Ton, apa guna sastra di tengah pandemi Corona? Begitulah. Tono merasa beku…

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 5 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=91U3hmTpePQ

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 4 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=xycQ_mzruLw

7 bulan yang lalu

Qurotul Ain (Syeh Yusuf al-Makassari) 3 – Kiai Jadul Maula

https://www.youtube.com/watch?v=t52hJyHD9-E

7 bulan yang lalu